Tulisan Untukmu

Merayakan Seperempat Abad

Source: Unsplash Dalam sebuah scene di kelas mengemudi Mrs. Puff, Spongebob pernah satu kali melemparkan tebak-tebakan kepada Patrick yang duduk di sebelahnya. Katanya, "apa yang lebih lucu dari dua puluh empat?". Patrick diam menahan tawa sambil menantikan jawaban pamungkas dari Spongebob. Koki Krusty Krab itu lantas memberikan jawaban, yang kemudian terkenal sebagai salah satu scene tebak-tebakan ikonik kartun ini. "DUA PULUH LIMA". Jika dilihat dari konteks pertanyaannya, adegan tersebut sebenarnya merupakan sindiran Nickelodeon terhadap kompetitornya, Cartoon Network. Pasalnya, Nickelodeon merupakan stasiun tv yang berada di channel 25, sedangkan Cartoon Network di channel 24. Lalu, apakah dua pilih lima selucu itu? Mungkin saja, saya juga nggak mau bahas itu. Toh, paragraf di atas hanya sekadar pembuka untuk menjembatani paragraf di bawah ini. Ya, selain dikenal sebagai penomoran channel tv, dan bagian dari urutan bilangan tentunya. Dua puluh lima, bagi sebagia...

Kenalan

 

Sumber Gambar: Pexels.com

Bagi seseorang yang pernah merasakan pahitnya percintaan, untuk kembali membangun kepercayaan diri agaknya membutuhkan waktu yang sangat lama dan sulit. Layaknya kucing yang habis dikebiri, hasrat untuk mencari pasangan baru perlahan menghilang begitu saja setelahnya. Hal ini juga yang terjadi kepada aktor utama kita, Roni. Ia adalah korban kebiri. Kebiri perasaan.

Roni adalah seorang pria pengangguran. Kehidupannya kini begitu membosankan dan tidak menarik. Seolah tidak ada semangat hidup yang tersisa darinya, hanya ada kemurungan. Hari-harinya dihabiskan dengan rebahan di atas kasur, scroll beranda Twitter sampai bawah, kemudian diulang lagi dari awal.

Ia adalah pribadi yang senang menyendiri, walaupun ia lebih senang menyebutnya sebagai ‘me-time’. Pergi ke toko buku sendiri, ke tempat kopi sendiri, jalan-jalan sendiri, ke toilet pun sendiri. Di balik kesendiriannya itu, tidak jarang ide-ide brilian yang mencerahkan kerap terlintas di pikirannya.

Belakangan, setelah menjalani pergulatan batin sekian ratus purnama, ia kembali menemukan orang baru yang mampu menyuntikan semangat padanya. Roni mulai memendam rasa kepada seorang perempuan yang ia temui di sosial media. Seseorang yang ada di balik akun Twitter dengan nama pengguna @jamdinding. Akun yang beberapa bulan terakhir sering ia perhatikan dan ditunggu-tunggu untuk lewat di beranda Twitternya.

Roni kembali merasakan bunga-bunga yang bermekaran di dalam hatinya. Rumput-rumput kembali berwarna hijau segar, dan kilau matahari kini tidak lagi tertutup awan kelabu. Begitu kiranya yang ia rasakan ketika si @jamdinding muncul.

“Ava Twitternya pakai foto Kim Seon Ho, pasti perempuan, nih...”, pikirnya, “... tapi kenapa gak Nam Joo Hyuk aja, ya? Kan laki banget badannya, ganteng juga.” ucapnya heran.

Roni bukan tipikal lelaki agresif yang berani kenalan dengan perempuan yang belum dikenalnya. Ia termasuk orang yang sangat sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain. Pribadinya sangat tertutup, bahkan sekadar untuk mengawali obrolan. Hal ini yang membuat Roni tidak mempunyai begitu banyak teman.

Ketika SMA, Roni pernah mencoba bergabung di salah satu tongkrongan dengan teman-teman lainnya. Salah satu warung kecil dekat sekolah yang penuh dengan asap tebal jika dilihat dari luar. Tapi begitulah Roni, keberadaannya baru disadari kalau ia mengeluarkan suara anehnya.

EERGGGGGHH” suara Roni setelah meminum dua gelas kopi Kapal Angin.

Suara itu berhasil mendapatkan perhatian teman-temannya yang sedang mengobrol sambil menghisap rokok kretek.

“Suara apaan tuh?...” tanya salah satu temannya. Ia kemudian menengok dan menyadari.

“... loh? Lo sejak kapan ada di sini, Ron?”

Roni tidak menyangka, ia hanya bisa terdiam. Matanya terbelalak.

Semua menatap ke arah Roni yang jongkok di pojokan warung. Anak-anak tongkrongan diam. Penjaga warung diam.

Kang cilok juga diam.

*TOK.. TOK TOK TOK...* bunyi kentongan dari gerobak dorong dengan tulisan ‘CMS’ besar di badannya.

Roni menatap ke arah Kang cilok. Anak-anak tongkrongan menatap ke arah Kang cilok.

Penjaga warung juga ikut menatap ke arah Kang cilok.

Kang cilok salting.

“Hehe. Maaf mas maaf” ucapnya sambil berlalu.

Masih dengan posisi jongkok, Roni sekali lagi hanya bisa terdiam. Kepalanya menengok ke arah kanan dan kiri. Ide briliannya pun muncul.

“Kang, ikut!” Roni lari meninggalkan warung sambil memeluk tas di depannya.

***

Bagi Roni, tweet dari akun @jamdinding itu mampu membangunkan semangatnya kembali, sekalipun itu bukan ditujukan padanya. Roni telah menemukan kebahagiaan baru. Kebahagiaan dirinya yang selama ini terbawa angin. Menyisakan keputus-asaan yang telah menjadi kerak. Menempel begitu rekat.

Roni mempunyai hasrat untuk berkenalan dengan orang di balik akun tersebut.

“Kalaupun gak bisa jadi pacar, minimal bisa jadi teman ngobrol lah” pikirnya.

Selama ini Roni sulit untuk menemukan orang yang bisa membuatnya nyaman dalam bercerita. Hanya orang-orang terdekatnya dan orang yang ia percayai saja. Namun mereka semua menghilang satu persatu. Entah karena mereka yang sibuk dengan urusannya atau karena seleksi alam dalam hubungan pertemanan. Sepi.

Kini, orang di balik akun @jamdinding menjadi harapan Roni untuk menjadi ‘teman’ barunya. Seseorang yang mampu membantunya melewati hari-hari dengan senyum dan keceriaan.

Walaupun dengan niat menggebu-gebu yang dimilikinya, tentu ini tidak pernah menjadi mudah bagi Roni. Ia terlalu cemen untuk berkenalan dengan perempuan, apa lagi menyatakan perasaannya.

“Gimanapun caranya, pokoknya gue harus bisa kenalan sama dia!” ucapnya.

Roni kembali membuka Twitternya, mencari nama @jamdinding di kolom pencarian, dan mulai scrolling ke bawah. Roni berusaha keras mencari tau topik apa yang jadi kesukaan si @jamdinding.

Setengah jam berlalu ia pun tidak menemukan petunjuk apapun. Ia kembali ke beranda Twitternya dan menemukan sesuatu yang membuatnya tersenyum.

Kadang gue mikir, apa hidup gue berguna buat orang lain?” cuitan dari akun @jamdinding kurang dari semenit yang lalu.

Kesempatan emas!

Roni mulai mengetik beberapa kata di handphone-nya untuk membalas tweet tersebut. Sangat berhati-hati agar tidak ada kata-katanya yang menyinggung atau membuat risih.

Berkali-kali ia mengetik lalu dihapus lagi. Tidak yakin dengan apa yang sudah ia tulis.

Kegelisahan Roni membuatnya kebelet pipis. Ia pun pergi ke toilet rumahnya untuk buang air kecil. Tak disangka, suara yang dihasilkan dari dua sumber air yang bertemu di kloset itu membuatnya mendapatkan inspirasi.

“AHA!” sambil menyentuh hidungnya dengan ibu jari tangan kiri, “... eh? Kok anget-anget basah gini?”

Kali ini ia mengetik begitu cepat dan percaya diri. Tapi kita semua tau betapa payahnya Roni. Alih-alih membalas langsung cuitannya, ia hanya mampu mengirim pesan tersebut melalui direct message. Cukup dirinya, si @jamdinding, dan Tuhan yang tahu, pikirnya.

“Bismillah” ucapan terakhirnya sebelum ia memencet tombol kirim.

Roni semakin gelisah. Jantungnya berdetak begitu cepat dari biasanya. Pikirannya kemana-mana.

“Anjir ngapain, sih, gue ngomong kaya gitu? Gimana kalo dia risih? Gimana kalo dia ilfeel sama gue? Gimana kalo dia block gue? Gimana kalo gue itu ternyata gagang pintu?”

Sejam berlalu masih belum ada balasan. Dua jam tiga jam kemudian juga masih belum ada balasan.

Roni sudah pasrah pesannya tidak akan dibalas. Sudah beberapa jam pesannya tidak juga dibaca.

“Oh iya kan dia kerja. Mungkin lagi sibuk” pikir Roni.

***

Sudah hari kelima di mana pesan Roni belum juga mendapat balasan. Walaupun begitu, setidaknya sudah ada kemajuan: pesan Roni dibaca!

Matanya sayu dengan tampilan muka bantalnya, “Haaahhh... Hopeless” Roni membuang handphone ke sebelah kanannya sambil melempar senyum tipis.

Ia menyeruput kopi panas dari cangkir di tangan kirinya. Seteguk dua teguk, sampai tersisa setengah gelas.

Perasaan putus asa Roni membuat kopi panas yang diminumnya terasa dingin. Sama seperti semangatnya pagi ini, tidak ada yang menghangati sampai terasa begitu beku.

Gelas itu kembali ditaruh dihadapannya. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan tatapan kosong. Tatapan itu kemudian mengantarkannya pada pergulatan dengan pikirannya sendiri.

Lagi-lagi kesendirian membawa pencerahan pada pikiran Roni. Dalam hening lamunannya yang panjang, ia kemudian menyadari sesuatu.

“Gue cuma butuh ‘rumah’!” tegasnya.

Sebagai makhluk sosial, Roni tentu mempunyai beberapa orang di sekitarnya. Sayang, tidak ada satupun di antaranya yang mampu menjadikannya sebagai ‘rumah’.

Tempat yang memberikan ruang istirahat kepada letihnya setelah jauh mengembara. Tempat ia menyembuhkan diri dari beban pikiran yang menyiksa. Tempat yang memberikan kehangatan ketika tidak ada selimut di tengah badai kerisauan.

Selama ini, Roni mempunyai asumsi bahwa apa yang dibutuhkannya itu adalah bentuk lain dari ketidak sanggupan dirinya dalam melupakan sosok mantan yang telah bertahun-tahun mengganggu pikirannya. Karena itu, pikirnya, bukan pilihan yang bijak jika harus mencari pengganti ketika ia belum bisa sepenuhnya melupakan sosok mantan. Akan ada orang tidak bersalah yang akan tersakiti karenanya. Terlalu berisiko. Hal yang juga mengantarkan Roni kepada sikapnya yang begitu dingin dan cuek ketika ia mencoba mendekati perempuan. Ia harus berdamai dengan diri sendiri terlebih dulu, pikirnya.

Roni bukannya diam di tempat dan tidak melakukan apa-apa. Ia sudah melakukan segala macam hal untuk bisa menghilangkan sosok mantan.  Bergelut dengan hobinya, jalan-jalan, termasuk hal yang mengukuhkan statusnya sebagai pejuang move on: mengaktifkan mode ‘mute’, ‘hide’, dan ‘unfollow’ untuk semua akun sosial media mantan.

Namun asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar, juga tidak sepenuhnya salah. Jauh dalam lubuk hatinya, ia memang membutuhkan sosok yang ia anggap ‘rumah’. Sosok mantan yang menganggu selama ini tanpa ia sadari sejatinya sudah memudar. Ia hanya menutupi kebutuhan dirinya dengan gengsi yang perlahan hanya menjadikannya sebagai kelemahan.

Berkali-kali ia mencoba melakukan sesuatu hanya untuk meyakini dirinya bahwa ia tidak membutuhkan ‘rumah’ tersebut. Termasuk di dalamnya menghabiskan waktu dengan teman sepermainannya untuk membunuh sepi yang tanpa sadar hanya membuat energinya habis. Roni berpura-pura, sebagaimana keahliannya.

Bukan hal yang sulit untuk mengakui kekurangan diri sendiri. Hanya saja, Roni terlalu egois untuk mengakuinya. Perlahan menjadikannya sebagai manusia yang kehilangan arah dan tidak mengenal dirinya. Awan kelabu yang menutupi hari-harinya adalah akibat dari energi yang ia habiskan untuk berpura-pura kuat.

Roni tertunduk menggelengkan kepalanya. Pergulatan dalam pikirannya membuat Roni kali ini selangkah lebih jauh mengenali dirinya. Ia berhasil untuk jujur. Apa yang ia lakukan selama ini ternyata tidak sekuat apa yang ia rasakan. Ia hanya berpura-pura kuat agar bisa bertahan dan melanjutkan hidupnya sekalipun menyiksa. Memperbaiki apa yang selama ini menjadi kekurangannya. Tapi nyatanya, sekuat apapun seseorang, ia akan tetap butuh orang lain yang bisa melengkapi dirinya. Bahwa ada kebutuhan dalam dari seseorang yang tidak bisa ia lengkapi oleh diri sendiri.

“Ternyata selama ini gue lemah.” Roni menutupnya dengan senyum tipis dan bangkit dari sandarannya. Ia lalu kembali mengambil gelas kopi di depannya.

Belum sampai bibirnya menyentuh gelas, handphone di sebelah kanannya berdering. Tanda pesan masuk!

Ahahahahaha. Positif banget balesannya. Makasih loh! Jarang-jarang ada yang perhatiin dan apresiasi gue...”

... btw, gue sempat stalking cuitan lo juga. Dan kayanya lo seru hahahaaa”

“Kenalin, gue Ardinia Fildza. Lo boleh panggil gue dengan sebutan apapun, kecuali Ardi wkwk”  tutup perempuan itu dalam pesannya.

Komentar