Sumber Gambar: Pexels.com
Bagi seseorang yang pernah merasakan pahitnya percintaan,
untuk kembali membangun kepercayaan diri agaknya membutuhkan waktu yang sangat
lama dan sulit. Layaknya kucing yang habis dikebiri, hasrat untuk mencari pasangan
baru perlahan menghilang begitu saja setelahnya. Hal ini juga yang terjadi
kepada aktor utama kita, Roni. Ia adalah korban kebiri. Kebiri perasaan.
Roni adalah seorang pria pengangguran. Kehidupannya kini
begitu membosankan dan tidak menarik. Seolah tidak ada semangat hidup yang
tersisa darinya, hanya ada kemurungan. Hari-harinya dihabiskan dengan rebahan di
atas kasur, scroll beranda Twitter sampai bawah, kemudian diulang lagi
dari awal.
Ia adalah pribadi yang senang menyendiri, walaupun ia
lebih senang menyebutnya sebagai ‘me-time’. Pergi ke toko buku sendiri, ke
tempat kopi sendiri, jalan-jalan sendiri, ke toilet pun sendiri. Di balik
kesendiriannya itu, tidak jarang ide-ide brilian yang mencerahkan kerap
terlintas di pikirannya.
Belakangan, setelah menjalani pergulatan batin sekian
ratus purnama, ia kembali menemukan orang baru yang mampu menyuntikan semangat padanya.
Roni mulai memendam rasa kepada seorang perempuan yang ia temui di sosial
media. Seseorang yang ada di balik akun Twitter dengan nama pengguna @jamdinding.
Akun yang beberapa bulan terakhir sering ia perhatikan dan ditunggu-tunggu
untuk lewat di beranda Twitternya.
Roni kembali merasakan bunga-bunga yang
bermekaran di dalam hatinya. Rumput-rumput kembali berwarna hijau segar, dan
kilau matahari kini tidak lagi tertutup awan kelabu. Begitu kiranya yang ia
rasakan ketika si @jamdinding muncul.
“Ava Twitternya pakai foto Kim Seon Ho, pasti perempuan, nih...”,
pikirnya, “... tapi kenapa gak Nam Joo Hyuk aja, ya? Kan laki banget badannya, ganteng
juga.” ucapnya heran.
Roni bukan tipikal lelaki agresif yang berani kenalan
dengan perempuan yang belum dikenalnya. Ia termasuk orang yang sangat sulit
untuk bersosialisasi dengan orang lain. Pribadinya sangat tertutup, bahkan
sekadar untuk mengawali obrolan. Hal ini yang membuat Roni tidak mempunyai
begitu banyak teman.
Ketika SMA, Roni pernah mencoba bergabung di salah satu
tongkrongan dengan teman-teman lainnya. Salah satu warung kecil dekat sekolah yang
penuh dengan asap tebal jika dilihat dari luar. Tapi begitulah Roni, keberadaannya
baru disadari kalau ia mengeluarkan suara anehnya.
“EERGGGGGHH” suara Roni setelah meminum dua gelas
kopi Kapal Angin.
Suara itu berhasil mendapatkan perhatian teman-temannya
yang sedang mengobrol sambil menghisap rokok kretek.
“Suara apaan tuh?...” tanya salah satu temannya. Ia
kemudian menengok dan menyadari.
“... loh? Lo sejak kapan ada di sini, Ron?”
Roni tidak menyangka, ia hanya bisa terdiam. Matanya
terbelalak.
Semua menatap ke arah Roni yang jongkok di pojokan
warung. Anak-anak tongkrongan diam. Penjaga warung diam.
Kang cilok juga diam.
*TOK.. TOK TOK TOK...* bunyi kentongan dari gerobak dorong dengan tulisan ‘CMS’
besar di badannya.
Roni menatap ke arah Kang cilok. Anak-anak tongkrongan
menatap ke arah Kang cilok.
Penjaga warung juga ikut menatap ke arah Kang cilok.
Kang cilok salting.
“Hehe. Maaf mas maaf” ucapnya sambil berlalu.
Masih dengan posisi jongkok, Roni sekali lagi hanya bisa
terdiam. Kepalanya menengok ke arah kanan dan kiri. Ide briliannya pun muncul.
“Kang, ikut!” Roni lari meninggalkan warung sambil
memeluk tas di depannya.
***
Bagi Roni, tweet dari akun @jamdinding itu mampu
membangunkan semangatnya kembali, sekalipun itu bukan ditujukan padanya. Roni
telah menemukan kebahagiaan baru. Kebahagiaan dirinya yang selama ini terbawa
angin. Menyisakan keputus-asaan yang telah menjadi kerak. Menempel begitu
rekat.
Roni mempunyai hasrat untuk berkenalan dengan orang di
balik akun tersebut.
“Kalaupun gak bisa jadi pacar, minimal bisa jadi teman
ngobrol lah” pikirnya.
Selama ini Roni sulit untuk menemukan orang yang bisa
membuatnya nyaman dalam bercerita. Hanya orang-orang terdekatnya dan orang yang
ia percayai saja. Namun mereka semua menghilang satu persatu. Entah karena
mereka yang sibuk dengan urusannya atau karena seleksi alam dalam hubungan pertemanan.
Sepi.
Kini, orang di balik akun @jamdinding menjadi harapan Roni
untuk menjadi ‘teman’ barunya. Seseorang yang mampu membantunya melewati
hari-hari dengan senyum dan keceriaan.
Walaupun dengan niat menggebu-gebu yang dimilikinya,
tentu ini tidak pernah menjadi mudah bagi Roni. Ia terlalu cemen untuk
berkenalan dengan perempuan, apa lagi menyatakan perasaannya.
“Gimanapun caranya, pokoknya gue harus bisa kenalan sama
dia!” ucapnya.
Roni kembali membuka Twitternya, mencari nama @jamdinding
di kolom pencarian, dan mulai scrolling ke bawah. Roni berusaha keras
mencari tau topik apa yang jadi kesukaan si @jamdinding.
Setengah jam berlalu ia pun tidak menemukan petunjuk
apapun. Ia kembali ke beranda Twitternya dan menemukan sesuatu yang membuatnya
tersenyum.
“Kadang gue mikir, apa hidup gue berguna buat orang
lain?” cuitan dari akun @jamdinding kurang dari semenit yang lalu.
Kesempatan emas!
Roni mulai mengetik beberapa kata di handphone-nya untuk
membalas tweet tersebut. Sangat berhati-hati agar tidak ada kata-katanya yang
menyinggung atau membuat risih.
Berkali-kali ia mengetik lalu dihapus lagi. Tidak yakin
dengan apa yang sudah ia tulis.
Kegelisahan Roni membuatnya kebelet pipis. Ia pun pergi
ke toilet rumahnya untuk buang air kecil. Tak disangka, suara yang dihasilkan
dari dua sumber air yang bertemu di kloset itu membuatnya mendapatkan
inspirasi.
“AHA!” sambil menyentuh hidungnya dengan ibu jari tangan
kiri, “... eh? Kok anget-anget basah gini?”
Kali ini ia mengetik begitu cepat dan percaya diri. Tapi
kita semua tau betapa payahnya Roni. Alih-alih membalas langsung cuitannya, ia
hanya mampu mengirim pesan tersebut melalui direct message. Cukup
dirinya, si @jamdinding, dan Tuhan yang tahu, pikirnya.
“Bismillah” ucapan terakhirnya sebelum ia memencet tombol
kirim.
Roni semakin gelisah. Jantungnya berdetak begitu cepat
dari biasanya. Pikirannya kemana-mana.
“Anjir ngapain, sih, gue ngomong kaya gitu? Gimana kalo
dia risih? Gimana kalo dia ilfeel sama gue? Gimana kalo dia block
gue? Gimana kalo gue itu ternyata gagang pintu?”
Sejam berlalu masih belum ada balasan. Dua jam tiga jam
kemudian juga masih belum ada balasan.
Roni sudah pasrah pesannya tidak akan dibalas. Sudah
beberapa jam pesannya tidak juga dibaca.
“Oh iya kan dia kerja. Mungkin lagi sibuk” pikir Roni.
***
Sudah hari kelima di mana pesan Roni belum juga mendapat
balasan. Walaupun begitu, setidaknya sudah ada kemajuan: pesan Roni dibaca!
Matanya sayu dengan tampilan muka bantalnya, “Haaahhh... Hopeless”
Roni membuang handphone ke sebelah kanannya sambil melempar senyum tipis.
Ia menyeruput kopi panas dari cangkir di tangan kirinya.
Seteguk dua teguk, sampai tersisa setengah gelas.
Perasaan putus asa Roni membuat kopi panas yang
diminumnya terasa dingin. Sama seperti semangatnya pagi ini, tidak ada yang
menghangati sampai terasa begitu beku.
Gelas itu kembali ditaruh dihadapannya. Ia menyandarkan
tubuhnya ke sandaran sofa dengan tatapan kosong. Tatapan itu kemudian
mengantarkannya pada pergulatan dengan pikirannya sendiri.
Lagi-lagi kesendirian membawa pencerahan pada pikiran
Roni. Dalam hening lamunannya yang panjang, ia kemudian menyadari sesuatu.
“Gue cuma butuh ‘rumah’!” tegasnya.
Sebagai makhluk sosial, Roni tentu mempunyai beberapa
orang di sekitarnya. Sayang, tidak ada satupun di antaranya yang mampu
menjadikannya sebagai ‘rumah’.
Tempat yang memberikan ruang istirahat kepada letihnya setelah
jauh mengembara. Tempat ia menyembuhkan diri dari beban pikiran yang menyiksa.
Tempat yang memberikan kehangatan ketika tidak ada selimut di tengah badai kerisauan.
Selama ini, Roni mempunyai asumsi bahwa apa yang
dibutuhkannya itu adalah bentuk lain dari ketidak sanggupan dirinya dalam
melupakan sosok mantan yang telah bertahun-tahun mengganggu pikirannya. Karena
itu, pikirnya, bukan pilihan yang bijak jika harus mencari pengganti ketika ia
belum bisa sepenuhnya melupakan sosok mantan. Akan ada orang tidak bersalah
yang akan tersakiti karenanya. Terlalu berisiko. Hal yang juga mengantarkan
Roni kepada sikapnya yang begitu dingin dan cuek ketika ia mencoba mendekati perempuan.
Ia harus berdamai dengan diri sendiri terlebih dulu, pikirnya.
Roni bukannya diam di tempat dan tidak melakukan apa-apa.
Ia sudah melakukan segala macam hal untuk bisa menghilangkan sosok mantan. Bergelut dengan hobinya, jalan-jalan,
termasuk hal yang mengukuhkan statusnya sebagai pejuang move on: mengaktifkan
mode ‘mute’, ‘hide’, dan ‘unfollow’ untuk semua akun sosial
media mantan.
Namun asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar, juga tidak
sepenuhnya salah. Jauh dalam lubuk hatinya, ia memang membutuhkan sosok yang ia
anggap ‘rumah’. Sosok mantan yang menganggu selama ini tanpa ia sadari sejatinya
sudah memudar. Ia hanya menutupi kebutuhan dirinya dengan gengsi yang perlahan
hanya menjadikannya sebagai kelemahan.
Berkali-kali ia mencoba melakukan sesuatu hanya untuk
meyakini dirinya bahwa ia tidak membutuhkan ‘rumah’ tersebut. Termasuk di
dalamnya menghabiskan waktu dengan teman sepermainannya untuk membunuh sepi yang
tanpa sadar hanya membuat energinya habis. Roni berpura-pura, sebagaimana
keahliannya.
Bukan hal yang sulit untuk mengakui kekurangan diri
sendiri. Hanya saja, Roni terlalu egois untuk mengakuinya. Perlahan
menjadikannya sebagai manusia yang kehilangan arah dan tidak mengenal dirinya.
Awan kelabu yang menutupi hari-harinya adalah akibat dari energi yang ia
habiskan untuk berpura-pura kuat.
Roni tertunduk menggelengkan kepalanya. Pergulatan dalam
pikirannya membuat Roni kali ini selangkah lebih jauh mengenali dirinya. Ia
berhasil untuk jujur. Apa yang ia lakukan selama ini ternyata tidak sekuat apa
yang ia rasakan. Ia hanya berpura-pura kuat agar bisa bertahan dan melanjutkan
hidupnya sekalipun menyiksa. Memperbaiki apa yang selama ini menjadi
kekurangannya. Tapi nyatanya, sekuat apapun seseorang, ia akan tetap butuh
orang lain yang bisa melengkapi dirinya. Bahwa ada kebutuhan dalam dari
seseorang yang tidak bisa ia lengkapi oleh diri sendiri.
“Ternyata selama ini gue lemah.” Roni menutupnya dengan
senyum tipis dan bangkit dari sandarannya. Ia lalu kembali mengambil gelas kopi di depannya.
Belum sampai
bibirnya menyentuh gelas, handphone di sebelah kanannya berdering. Tanda pesan
masuk!
“Ahahahahaha. Positif banget balesannya. Makasih loh!
Jarang-jarang ada yang perhatiin dan apresiasi gue...”
... btw, gue sempat stalking cuitan lo juga. Dan kayanya
lo seru hahahaaa”
“Kenalin, gue Ardinia Fildza. Lo boleh panggil gue
dengan sebutan apapun, kecuali Ardi wkwk” tutup perempuan itu dalam pesannya.
Komentar
Posting Komentar