Tulisan Untukmu

Merayakan Seperempat Abad

Source: Unsplash Dalam sebuah scene di kelas mengemudi Mrs. Puff, Spongebob pernah satu kali melemparkan tebak-tebakan kepada Patrick yang duduk di sebelahnya. Katanya, "apa yang lebih lucu dari dua puluh empat?". Patrick diam menahan tawa sambil menantikan jawaban pamungkas dari Spongebob. Koki Krusty Krab itu lantas memberikan jawaban, yang kemudian terkenal sebagai salah satu scene tebak-tebakan ikonik kartun ini. "DUA PULUH LIMA". Jika dilihat dari konteks pertanyaannya, adegan tersebut sebenarnya merupakan sindiran Nickelodeon terhadap kompetitornya, Cartoon Network. Pasalnya, Nickelodeon merupakan stasiun tv yang berada di channel 25, sedangkan Cartoon Network di channel 24. Lalu, apakah dua pilih lima selucu itu? Mungkin saja, saya juga nggak mau bahas itu. Toh, paragraf di atas hanya sekadar pembuka untuk menjembatani paragraf di bawah ini. Ya, selain dikenal sebagai penomoran channel tv, dan bagian dari urutan bilangan tentunya. Dua puluh lima, bagi sebagia...

Memoar Sadboy (Puisi)

Sumber Gambar: Pexels.com

Di sana

Di meja nomor dua

Di antara ratusan orang lalu lalang

Di atas kursi kayu ruang tengah

Aku menghunusmu dengan tatap

Menjelajah palung dalam dengan pedang dua mata

Semakin dalam

Terlalu dalam

Ku taruh pesan untukmu di dasar

Ku katakan pada makhluk di sana

‘Ini lah kebanggaanku!’

Kan kau merasakan?

Genggam tanganmu begitu kuat

Garis di ujung bibir menampak malu

Tipis

 

Sayang

Ini masih aku

Yang bangga bersanding denganmu

Dengan rasa yang sama

Merangkak ke permukaan dengan lelah

Kini menjadi penonton bayaran

Bersorai menyaksikan pertunjukan

Kau yang di sana

Berakrobat dengan baiknya di panggung

Berdua 


***


Matari belum sempat memberikan aba-aba

Alam pikirku sudah terbang menghembus

Menghantarkan satu nama

Terlalu dini

Kau

Yang mempunyai lengkung senyum terbaik

Suara-suara memanggil

Memanja

Alis tegak yang menyempurnakan tatap

Bukan lamunan

 

Sayang

Kau begitu mengganggu

Tak berdayaku dibuat berdegup

Terlalu lantang

Tak peduli ku dibuat kau masa bodoh

 

Sayang

Aku di sini

Berdiri dalam kepayahan

Terhantam angin khayalan

Bertumpu satu kaki

Kan kau tak asing?

Ini singgasana kita

 

Sayang

Helai rambutmu terburai memberontak

Mencari sang tuan

Si tukang usap

Aku

Dengar denyutku

Bermimpilah kau

 

Sayang

Ingin ku kembali menggenggam

Hanyut berdua dalam buaian

Sekali saja

Tuk terakhir ini

 


Komentar

Posting Komentar