Tulisan Untukmu

Merayakan Seperempat Abad

Source: Unsplash Dalam sebuah scene di kelas mengemudi Mrs. Puff, Spongebob pernah satu kali melemparkan tebak-tebakan kepada Patrick yang duduk di sebelahnya. Katanya, "apa yang lebih lucu dari dua puluh empat?". Patrick diam menahan tawa sambil menantikan jawaban pamungkas dari Spongebob. Koki Krusty Krab itu lantas memberikan jawaban, yang kemudian terkenal sebagai salah satu scene tebak-tebakan ikonik kartun ini. "DUA PULUH LIMA". Jika dilihat dari konteks pertanyaannya, adegan tersebut sebenarnya merupakan sindiran Nickelodeon terhadap kompetitornya, Cartoon Network. Pasalnya, Nickelodeon merupakan stasiun tv yang berada di channel 25, sedangkan Cartoon Network di channel 24. Lalu, apakah dua pilih lima selucu itu? Mungkin saja, saya juga nggak mau bahas itu. Toh, paragraf di atas hanya sekadar pembuka untuk menjembatani paragraf di bawah ini. Ya, selain dikenal sebagai penomoran channel tv, dan bagian dari urutan bilangan tentunya. Dua puluh lima, bagi sebagia...

Historical Walking Tour, Upaya Membumikan Sejarah Kota lewat Trip Kekinian

 

(Dok. Pribadi)

Sejauh pandang saya, sejarah menjadi subjek yang membosankan dan sulit dipahami. Beberapa orang yang saya kenal bahkan terang-terangan menganggap bahwa sejarah itu tidak menarik dan entah apa gunanya dalam kehidupan.

Saya kira, pandangan ini pun tidak lepas dari cara kita dalam mempelajari sejarah. Di sekolah misalnya, pembelajaran sejarah jamak menggunakan metode hafalan, alih-alih menanamkan pemahaman komprehensif nan kontekstual.

Terlebih, pelajaran sejarah di sekolah pun banyak disampaikan dengan metode ceramah dan terkesan sangat textbook. Jika mata pelajaran sejarah diberikan di jam-jam siang, maka ini menjadi sarana yang tepat untuk membantumu cepat terlelap dalam kelas.

Berkaca dari hal tersebut, sudah sepatutnya metode penyampaian sejarah diubah menjadi lebih menarik dan down-to-earth. Salah satu metode yang baru saya temui dalam menikmati sejarah yaitu melalui walking tour.

Historical Walking Tour

Kalau saya tidak salah ingat, sejarah memiliki beberapa fungsi. Pertama yakni sejarah sebagai pengetahuan, kemudian sejarah sebagai informasi, dan yang ketiga sejarah sebagai rekreasi.

Historical walking tour menjadi salah satu medium mengenalkan sejarah melalui kegiatan rekreasi, khususnya jalan-jalan. Dari kegiatan tersebut, kami diajak untuk mengelilingi beberapa ikon kota yang memiliki nilai historis. Mengenalkan kami kepada sejarah kota yang tenggelam oleh peradaban.

Sebenarnya konsep ini bukanlah sesuatu yang baru di Indonesia. Pasalnya, konsep serupa juga dapat ditemui di beberapa tempat wisata populer seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Hanya saja, penyelenggara walking tour yang saya temui ini menawarkan pengalaman lebih kepada para pesertanya.

Alih-alih mengajak peserta ke tempat wisata sejarah populer, walking tour yang saya ikuti mengarahkan kami ke tempat-tempat yang tidak menarik untuk dikunjungi sebagai lokasi wisata. Nampaknya, tempat tersebut pun tidak terpikirkan untuk dijadikan sebagai tempat berlibur masyarakat umum.

Sebabnya, historical walking tour mengajak kami menelusuri sejarah kota sampai ke tempat-tempat yang tidak pernah saya sadari memiliki cerita sejarah menarik di dalamnya. Di Jakarta misalnya, ada beberapa destinasi yang bisa kamu pilih seperti kawasan Chinatown Glodok, Cikini, Gambir,Djuanda, Cilincing, Menteng, hingga makam kehormatan Belanda di Ereveld Menteng Pulo.

Pay As You Wish

Beberapa waktu lalu, saya sempat merasakan sendiri dengan mengikuti walking tour bersama kawan-kawan dari Jakarta Good Guide . Kebetulan, destinasi yang saya pilih adalah kawasan pecinan di Glodok, Jakarta Barat.

Bagi saya, rute ini adalah rute yang paling menarik dibading rute lain yang tersedia. Sebabnya, kawasan pecinan tidak hanya menawarkan cerita sejarah kota saja. Lebih dari itu, saya bisa merasakan kebudayaan masyarakat keturunan Tionghoa secara langsung yang sangat berbeda dari kebudayaan asal saya.

Dalam tur tersebut, kami diajak untuk menelusuri beberapa tempat yang tentunya mempunyai cerita menarik. Jika kamu pernah mendengar Patnjoran Tea House, Petak Sembilan, Wihara Dharma Bakti dan Wihara Dharma Jaya Toa Se Bio, Gereja Santa Maria de Fatima, dan Gang Gloria, itu adalah beberapa tempat yang dijadikan destinasi dalam tur ini.

Sejujurnya, tur yang berdurasi sekitar dua jam ini tidak begitu berasa lelah. Justru kebalikannya, durasi dua jam terlalu cepat karena banyak cerita sejarah yang bisa dikulik dari kawasan pecinan Glodok.

Sebagai pencinta jalan-jalan, keikutsertaan saya dalam tur ini juga menjadi pengalaman yang menarik. Rasanya hanya mengikuti satu kali tur saja tidak cukup untuk mendengar keseluruhan cerita dari secuil sejarah kota Jakarta.

Kabar baiknya, buat kamu yang tinggal di luar Jakarta pun bisa mengikuti kegiatan walking tour ini. Sejauh yang saya tahu, ada beberapa kota lain yang memiliki penyelenggara serupa seperti Bogor, Bandung, Jogja, dan Palembang dengan variasi rute yang tersedia dalam kota tersebut.

Hebatnya lagi, penyelenggara pun tidak mematok tarif khusus untuk kegiatan reguler mereka. Kamu bisa membayar seikhlasnya sesuai dengan tingkat kepuasan kamu selama mengikuti tur. Walaupun seikhlasnya, beri lah nominal yang wajar dan manusiawi, ya!

Sebagai penutup, saya kira sudah waktunya beberapa kota lain pun mempunyai konsep tur serupa. Di samping bisa sambil berwisata, para peserta tentunya jadi lebih bisa mengenal sejarah dan identitas kota sendiri. Terlebih dengan konsep yang diusungnya, saya rasa sejarah akan kembali hidup dengan cara yang menyenangkan.


NB: Tulisan ini pernah dimuat di situs mojok.co pada 7 Juli 2022 dengan judul Historical Walking Tour, Upaya Membumikan Sejarah Kota lewat Trip Kekinian

Komentar