Tulisan Untukmu

Merayakan Seperempat Abad

Source: Unsplash Dalam sebuah scene di kelas mengemudi Mrs. Puff, Spongebob pernah satu kali melemparkan tebak-tebakan kepada Patrick yang duduk di sebelahnya. Katanya, "apa yang lebih lucu dari dua puluh empat?". Patrick diam menahan tawa sambil menantikan jawaban pamungkas dari Spongebob. Koki Krusty Krab itu lantas memberikan jawaban, yang kemudian terkenal sebagai salah satu scene tebak-tebakan ikonik kartun ini. "DUA PULUH LIMA". Jika dilihat dari konteks pertanyaannya, adegan tersebut sebenarnya merupakan sindiran Nickelodeon terhadap kompetitornya, Cartoon Network. Pasalnya, Nickelodeon merupakan stasiun tv yang berada di channel 25, sedangkan Cartoon Network di channel 24. Lalu, apakah dua pilih lima selucu itu? Mungkin saja, saya juga nggak mau bahas itu. Toh, paragraf di atas hanya sekadar pembuka untuk menjembatani paragraf di bawah ini. Ya, selain dikenal sebagai penomoran channel tv, dan bagian dari urutan bilangan tentunya. Dua puluh lima, bagi sebagia...

Pupus



Hei

Terima kasih telah membersamaiku sampai hari ini

Kamu tahu?

Tahun ini bukan tahun yang baik untuk dikenang

Bukan pula tahun yang buruk untuk diratapi

Tapi setidaknya kita jadi banyak belajar

Tentang apa itu kesetiaan dan kejujuran

Juga tentang kepercayaan dan keterbukaan

 

Kita bukan pasangan romantis layaknya orang kebanyakan

Menghabiskan malam di sudut kafe dengan gurauan

Atau menyatukan dua tangan di sela jemari sembari menelusuri jalan

 

Aku juga bukan pasangan yang sempurna

Bukan pria berkemeja dengan wewangian khasnya

Bukan pula pria religius  yang selalu membimbingmu kepada-Nya

Hanya tulusnya cinta yang mungkin bisa kamu rasa

 

Kita pernah menciptakan momen sederhana tak terlupa

Melaju kencang di tempat yang kita sebut jalan cinta

Hingga kuatnya angin tak mampu mengehentikan tawa

Ya. Kita pernah bahagia

 

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan

Mereka selalu menjadi rahasia yang disimpan Tuhan

Entah kita bisa terus bersama menghadapi keadaan

Atau berpisah di persimpangan jalan

Satu yang pasti, dua telapak tanganku selalu terangkat ‘tuk mengharap kebaikan

Jika pelaminan adalah tujuan

Kesempatan dan izin-Nya kelak menjadi jawaban

 

Aku bersyukur kita pernah dalam satu ikatan

Terikat dalam kesamaan perasaan

Dan mengajariku apa itu ketulusan

 

Terima kasih telah membuatku terjun ke jurang cinta yang dalam

Terima kasih telah membuatku bertahan dari pengalaman semalam

 

Terbentuk harapan untuk hari baru nanti

Semoga kebahagiaan selalu mengiringi

 

Purwokerto, 30 Desember 2019


NB: tulisan ini pernah dimuat di qureta,com pada 5 Januari 2020 dalam kumpulan puisi yang berjudul Memori 

Komentar