 |
| Sumber Gambar: Unsplash/AhmadOssayli |
|
Jalanan kembali ramai dengan lalu lalang manusia. Halte yang dijadikan tempatnya berteduh perlahan mulai ditinggalkan. Riuh hujan perlahan menghilang, digantikan suara percikan air dari genangan yang terinjak-injak.
“Jaraknya masih sekitar dua puluh menit dari sini. Bisa lebih cepat kalau naik kendaraan umum,” jawabnya sambil memikul kotak dagangan sesaat sebelum beranjak pergi.
Tidak seperti biasanya, cuaca belakangan ini sedang tidak bersahabat. Hujan tak henti-hentinya mengguyur tanah daratan. Jika sudah begitu, kota yang sudah semrawut dengan aktivitas manusia ini berubah menjadi area penuh penderitaan. Raut muka masam menjadi pemandangan umum.
Namun, kehendak alam ini tidak menyurutkan niatku untuk melanjutkan perjalanan. Berbagai masalah di kota ini justru mengajakku untuk menyelami tiap jengkal sejarah kota yang telah berdiri sejak ratusan tahun lalu.
Aku menelusuri jalan dengan bangunan tua yang nampak begitu kokoh di sebelah kiri dan kanan. Sayangnya, bangunan ala Eropa itu tampak tak terawat. Kesan menyeramkan pun timbul bagi siapapun yang memandang bangunan-bangunan itu.
Pada masa jayanya, bangunan-bangunan itu sibuk dengan segala aktivitas kongsi dagang para ekspatriat negeri ini. Berbagai transaksi besar yang mempengaruhi ekonomi kota dan perdagangan luar negeri terjadi di dalam gedung dua lantai itu.
Hanya ada beberapa orang dengan rompi oranye yang berjaga di halaman bangunan. Mereka melambaikan tangan seolah mengajak tiap pengguna jalan yang lewat untuk berhenti dan meletakkan kendaraan di area yang dijaganya.
Sementara itu, pedagang yang mendiami teras bangunan membuka terpal dagangannya yang basah. Ada sekitar belasan hingga puluhan pedagang yang mencari rezeki di teras bangunan tak bertuan itu. Semuanya menjajakan makanan dan minuman kepada para pelancong.
Sekira setengah perjalanan telah ku lalui dari titik awal di stasiun kota. Dadaku mulai kembang kempis dengan cepat. Volume udara yang keluar dari rongga dada kini memaksa mulut untuk terbuka.
“Ah, masa bodoh,” gumamku sambil mempercepat laju langkah.
Jalan kaki di bawah terik matahari siang bolong adalah keputusan konyol. Sengat panas mencabik-cabik kulit. Minimnya pepohonan yang memayungi pejalan kaki semakin memperkuat derita orang-orang yang hidup di kota dengan kualitas udara terburuk ini.
Dengan nafas terengah-engah, aku sampai pada sebuah bangunan tua yang tertutupi pohon rindang di pinggir jalan. Bentuk bangunan itu lebih buruk dibanding bangunan lain yang aku temui sepanjang jalan. Warna bangunan yang sudah kusam, tembok yang mengelupas, serta banyak lumut segar yang tumbuh sempurna di beberapa sudutnya.
Tidak jauh dari bangunan itu, ada sekelompok orang yang telah berkumpul dengan posisi melingkar. Pandangan mereka terpaku kepada pria gendut di tengah lingkaran yang sedang menjelaskan sesuatu.
“Maaf saya telat,” sesalku.
Pria gendut itu adalah pemandu rombongan ini. Dari beberapa orang itu, hanya si pria gendut yang menanggapi ucapanku dengan senyum ramah sembari melanjutkan cerita. Rencananya, kami akan berkeliling mencari jejak sejarah kota di bagian utara.
Salah satu yang menjadi tujuan adalah benteng peninggalan era kolonial yang mengitari kota. Dulu, benteng ini digunakan sebagai tembok pertahanan yang mengurung penduduk dari dunia luar. Keberadaannya yang terletak di dekat laut membuat kota lama ini rentan ancaman.
Kehidupan warga yang jorok dan buruknya sistem sanitasi menyebabkan penduduk mudah terinfeksi berbagai penyakit. Para mayat yang dibuang ke sungai pun turut menyumbangkan bau busuk ke seluruh penjuru kota. Menyadari wilayahnya tak lagi layak untuk dihuni, pemerintah kota lama memindahkan para penduduk dan pusat pemerintahannya ke tanah baru di selatan.
Sementara Si Pria Gendut berbicara, suara lain turut mengganggu pendengaranku yang kini terpecah. Suara yang pernah aku dengar beberapa tahun silam. Beberapa kali kami terlibat dalam sebuah percakapan panjang hingga dibuatnya terbiasa. Dialek yang diucapkannya sama sekali tidak berubah. Hanya pesonanya yang kini tampak berbeda seiring bertambah usia.
“Masih belum berubah, ya,” mulainya.
“Eh?”
“Bangunan kumuh itu. Dan kebiasaanmu.”
“Tahu betul rupanya,” jawabku. Otot pipiku tak kuasa menahan dirinya untuk bergerak hingga sudut bibir kanan terangkat.
Batinku merasa ada suatu hal lain yang mengganggu. Pergelutan antara rasa senang dan gelisah menimbulkan sensasi luar biasa. Untuk beberapa saat, jantung memompa darah lebih cepat. Adrenalin memutuskan aliran nafasku sedikit demi sedikit. Dibuatnya terpotong-potong.
"Neng Lia, Aa yang baru datang, reuninya ditunda dulu sebentar ya. Kita pindah tempat," ajak si pria gendut seraya menggoda ke arah kami dengan tatapannya.
Rombongan kemudian berjalan menyusuri jalan kampung. Melewati celah gang sempit di antara bangunan semi permanen yang terbuat dari sekumpulan seng dan kayu. Masyarakat sekitar tampak memberikan pandangannya ke arah kami seolah pertunjukan jalanan. Matanya mengikuti laju kami yang dengan cepat berlalu.
Perkampungan yang kami lalui tak ubahnya seperti pemukiman padat penduduk lain di kota ini. Hanya ada satu jalan kecil untuk akses keluar masuk yang membelah rumah-rumah. Jalan sempit itu juga kerap menjadi tempat anak-anak bermain bola dan menjemur pakaian. Tak jarang, kami harus berbagi dan menepi sesaat tiap ada pengendara yang melintas.
Lia mendekat ke arahku. Pandangannya meraih mataku yang sedikit di atas pangkal rambutnya. Tangan usilnya menarik lengan sweater putihku. Raut mukanya menggambarkan suatu kebanggaan.
Sepanjang perjalanan, Lia terus mengajakku berbicara. Bertanya kabar satu sama lain hingga berbicara soal pengetahuannya tentang jalur yang kami lalui. Kami semakin terbiasa dan akrab sekalipun tak berjumpa dalam waktu lama. Di tengah candaan, sesekali Lia menyapa anak-anak yang bermain dan melemparkan senyum kepada warga.
“Silakan semua berteduh di sini. Kita istirahat, ya!”
Pria gendut itu mengarahkan kami ke pinggiran sungai yang alirannya cukup tenang. Ada sisa tanah yang cukup untuk kami duduk dan meluruskan kaki. Persis di atas beton-beton yang membuatnya kokoh. Nampak pula batuan lama yang mengendap di dasar dan pinggiran sungai.
Dulunya, sungai ini menjadi bagian penting dari kehidupan warga kota lama. Para warga menggunakan aliran sungai sebagai sarana mencuci dan buang air. Aktivitas bersih-bersih dan membuang hajat yang dijadikan satu membuat air dalam sungai acap kali tercemar kotoran.
“Teknologi pengendalian debit air waktu itu pun belum ada. Tiap musim penghujan, sungai-sungai meluap dan membasahi jalanan. Lebih-lebih dengan semakin banyaknya penduduk yang mendiami kota. Sejak abad sembilan belas, banjir sudah menjadi hal biasa di kota ini,” jelas Pria Gendut.
Lia tampak memperhatikan betul ketika Pria Gendut berbicara. Selain kecintaannya terhadap sejarah, ada sesuatu yang tampak mengganjal dalam dirinya.
“Sebaik apapun penanganan banjir, selama air tidak terserap dengan baik, nampaknya kota ini tidak akan banyak perubahan. Terlebih, hutan-hutan di daerah atas sana beralih fungsi menjadi pemukiman. Jika kota atas saja menjadi korban, bagaimana pula kota ini yang lebih rendah dari permukaan air,” imbuhnya.
Kami melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya. Melewati tanah gersang berdebu pinggir tol. Beruntung, kami sampai ketika daerah ini belum dituruni hujan. Namun begitu, awan kelabu mulai datang dan menutupi langit-langit. Sebentar lagi rintik air akan turun dan mengubah tanah lapang ini menjadi kubangan lumpur.
Tibalah kami di sisa bangunan benteng kota lama. Bangunan yang kami kunjungi menjadi salah satu bukti sejarah peradaban kota ini. Hanya ada satu sudut reruntuhan tembok yang membentang ke arah barat serta satu bangunan bekas gudang senjata dan logistik. Semua masih asli. Tidak ada satupun tanda-tanda perusakan selain karena proses alami pelapukan.
Dilihat dari wajahnya, bangunan ini hanya menunggu waktu untuk dirinya runtuh. Akar beringin menjuntai dan menutupi sebagian besar muka bangunan. Halaman depan yang berlumpur dan bercampur sampah itu dijadikan tempat singgah mobil-mobil besar.
Ketika malam hari, bangunan ini lebih terlihat sebagai istana hantu ketimbang situs bersejarah. Tak terawat dan tak lagi bertuan. Beberapa warga lokal menganggap bangunan ini sebagai destinasi wisata mistis.
Aku mengintip melalui celah jendela yang dipalangi beberapa belah kayu. Kepalaku berusaha menjangkau isi ruangan untuk mendapat gambaran lebih jelas. Sangat berantakan dan lembab. Aroma pengap begitu kuat.
“Kamu berani intip ke dalam?”
“Hush! Jangan macam-macam. Hormati penunggu tempat ini,” ucapnya menyamarkan rasa takut. Lia berdiri beberapa langkah agak jauh.
“Salah ‘kah?”
“Sudah sebaiknya kita menjaga sopan santun di tempat seperti ini. Mana tahu penunggunya marah,” ucapnya menceramahi.
Aku kembali mendekatinya. Sementara itu beberapa dari rombongan bergantian mendekat ke arah jendela. Rasa penasaran kini menutupi kesan seram yang lebih dulu terekam.
“Lalu dengan sampah berserakan seperti ini tidak lantas menjadikan ‘Si Penunggu’ itu marah karena orang-orang berlaku tidak sopan? Atau sampah dalam dunia gaib tidak termasuk dalam nilai sopan santun?” aku memancing. Mencoba menggali kegelisahannya mengenai tempat ini.
Lia terdiam. Entah apa yang terjadi namun mendadak aku membuatnya tak nyaman. Ketakutannya dengan hal mistis bertemu dengan sesuatu yang belakangan menjadi keresahannya.
“Membandingkan dua masalah untuk menihilkan masalah lain tidak lantas menjadikannya sebuah pembenaran,” ucapnya kesal.
“Sudahlah, berbagai cerita seram yang kamu nikmati itu tidak lebih dari upaya memelihara ketakutan. Tanpa disadari mereka menjelma menjadi unit bisnis para pendongengnya,” bisikku, “lagi pula, hantu mana yang betah dengan berisik klakson dan mesin kendaraan dari jalan di atas sana?”
“Diam!”
***
Rombongan berhenti di tanah lapang yang ramai. Persis di depan bangunan megah bekas gedung wali kota lama. Belakangan aku tau, pada masanya lapangan ini adalah tempat eksekusi para tahanan. Mereka didirikan di atas kursi kayu dengan leher terikat tali yang tersimpul di mistar. Dijatuhkannya kursi itu hingga membuat tubuh mereka tergantung. Masyarakat bersorak melihat anak manusia menggeliat dalam penderitaan. Suasana menjadi riuh. Raut ketegangan berubah menjadi kepuasan.
"Terima kasih semua atas partisipasinya. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan," tutup Pria Gendut di tanah lapang yang menjadi destinasi akhir perjalanan rombongan hari ini.
Matahari perlahan turun dari singgasananya. Memberikan pesona indah pada lembayung yang dilahirkan. Suasana tenang dirasakan oleh siapapun yang hidup pada sore hari itu. Anak-anak berlarian lepas di lapangan beton, mengejar kawannya yang sudah lebih dulu melaju dengan sepeda tua. Muda-mudi duduk tanpa alas. Mereka duduk berkelompok, ada pula yang berpasangan.
Menjelang malam, orang-orang berduyun-duyun meramaikan lapangan. Kondektur bus di halte seberang sibuk memberikan salam terbaiknya kepada penumpang yang turun. Para pedagang pun tak kalah sibuknya seiring dengan banyaknya pengunjung yang mencari tempat makan.
Tak membutuhkan waktu lama, dua porsi mangkuk bakso panas hadir di hadapan kami. Satu mangkuk berisi sayuran lengkap dengan beberapa butir bakso kecil, sedang lainnya hanya bihun putih dengan tambahan bakso telur. Aku memberikan mangkuk itu kepada Lia. Wangi kaldu dalam kepulan asap terus memanggil siapapun untuk menyantap makanan peranakan dari negeri timur itu.
Lia menyeka sendok dan garpu dari tempatnya dengan tisu. Menyerahkannya padaku dan mengulang aktivitas serupa untuk dirinya. Beberapa sendok cabai halus dimasukkannya bersamaan dengan kecap dan cuka asam.
“Dulu, tempat bakso ini ada di pinggiran kali besar sana. Seiring dengan pemulihan kawasan, para pedagang ditempatkan pada area khusus ini,” mulainya.
“Oh, sudah sering ke sini?”
“Ya, beberapa kali. Omong-omong, kamu masih sembunyi dari ‘peradaban’, Ta?” tanya Lia sambil meniup uap panas dari kuah di sendoknya.
Aku menatap nanar. Wanita ini sungguh menggodaku dengan pertanyaan tajam.
“Belum pernah sedikit pun,” singkatku. “Satu hal yang mungkin tidak pernah orang-orang sadari hanya bagaimana caraku hidup saat ini.”
“Maksudmu?”
“Aku meyakini sejarah akan mencatat dan mengenang apapun yang dianggapnya menarik bagi generasi masa depan. Terlepas dari nilai yang dimiliki. Mereka yang ditinggalkan hanya akan menjadi bagian dari sejarah, dan bukan sejarah itu sendiri. Persis reruntuhan benteng tua dan para tahanan tadi. Dan aku.”
Kami duduk di trotoar jalan dengan meja panjang. Membelakangi gedung besar yang masih termasuk ke dalam warisan sejarah. Pemerintah kota sengaja menjadikan kawasan ini sebagai benda cagar budaya. Beberapa bangunan dipercantik dan dialihfungsikan menjadi tempat-tempat tertentu. Museum, tempat makan, hingga gedung pameran. Membuatnya memiliki daya tarik untuk dikunjungi masyarakat.
Lia tampak hati-hati menyerap tiap kata yang keluar dari mulutku. Sebab tidak pernah aku ungkapkan kepada siapapun selain memang tidak perlu. Tempo ayunan sendok yang diarahkan ke mulutnya menggambarkan bagaimana dirinya tengah mendengar dengan saksama. Sesuap demi sesuap. Sementara itu belum ada secuil makanan apapun yang masuk ke perutku.
“Aku memilih untuk hidup sebagai bagian dari sejarah yang menceritakan sejarah itu sendiri. Tanpa berpura-pura untuk menjadi orang lain hanya untuk dikenal dunia tentang siapa aku,”
“Dan lingkunganmu adalah sarang kepura-puraan?”
“Ya. Kurang lebih. Aku cukup dibuatnya jengah dengan muka-muka palsu dan kebahagiaan yang dipertontonkan seolah mereka pusat dunia. Mereka tidak bisa hidup dari pandangan sosial dalam pembentukannya menjadi manusia.”
Tiupan angin kini membawa udara dingin. Desahan halus terdengar dari nafas yang ditarik. Bersamaan dengan itu, gerigiku bergerak melumat bola-bola daging yang terabaikan. Kembali menghancurkannya ke bentuk yang tak utuh.
“Hmm aku ragu kamu adalah bagian dari masa lalu yang terperangkap dari kehidupan saat ini,” guraunya. “Apa yang kamu pikir bisa jadi tidak selaras dengan hidupmu. Namun begitu, kehidupan manusia selalu berubah seiring dengan kebutuhan dunia baru. Perubahan-perubahan, atau yang kamu anggap kepura-puraan, adalah cara manusia bertahan hidup di masa sekarang ini.”
Lia memandang kehidupan dunia sebagai hal yang selalu baru. Baginya, manusia tidak bisa benar-benar bertahan dengan tatanan yang hanya diyakininya seorang. Kehidupan baru membutuhkan cara baru untuk bertahan.
Sama halnya dengan kehidupan kaum Neanderthal sebelum kepunahannya. Mereka tidak memiliki kemampuan bertahan hidup yang baik seperti menghadapi peperangan dan bencana alam. Pada saat yang bersamaan, para Sapiens mampu berevolusi dengan cepat. Menciptakan perkakas dan memanfaatkan alam yang memberikannya berkah. Sejarah kemudian mencatat kehidupan baru para Sapiens, mengubur Neanderthal dalam kepayahannya.
Pergolakan terjadi dalam tenda yang makin ramai. Banyak hal yang mengganjal dan sesat pikir yang aku yakini. Membayangkan betapa seringnya manusia dijauhkan dari sesamanya karena satu benda di tangan. Atau berulang kali menjadi korban atas nama pembaruan.
Hari ini orang-orang berlomba hidup untuk menyenangkan orang lain. Besok kita mati lemas dengan keringat di sekujur tubuh. Semua berlomba-lomba untuk tampil di muka umum dan menjadi pemenang. Orang-orang tidak punya waktu untuk mengenal dirinya sendiri.
“Dengan seperti ini, aku bahkan bisa mencatat dengan baik dan menceritakan segala hal yang telah ku lalui. Tanpa alat bantu,” ucapku berusaha mengalihkan. Perbedaan prinsipil selalu membuat kecanggungan. Meruntuhkan kedekatan dalam pembicaraan. Tak jarang, ia dibuatnya kandas.
“Baik. Ceritakan padaku sesuatu,” pintanya. Lantas aku menunjuk mangkuk yang tengah ia suap. Seolah paham, Lia tersipu melihat gimik sederhana itu.
“Aku tidak ingin membuat tenda ini gaduh hanya karena makanan.”
“Oh, ya? Ada orang seperti itu?” tanya Lia mengejek.
“Tentu. Aku pernah menyaksikannya sendiri beberapa tahun lalu,” jawabku. “Orang itu merajuk. Raut wajahnya lebih kecut dari cuka asam ini. Aku pun heran kenapa aku tidak beranjak dari tempat duduk dekat orang itu.”
“Wah, kamu pasti orang paling sabar di dunia,” ucapnya memuji. Tentu hanya pujian palsu mengingat pipinya yang memancarkan rona merah.
Lia terdiam dalam lamunan. Tampak ia sedang membayangkan sesuatu. Untuk sejenak memorinya dibawa pergi ke suatu tempat yang tak seorang pun tahu. Namun begitu, ia tampak cerah. Diputarnya garpu di genggaman hingga bihun di mangkuknya menggulung.
“Oh, ya. Aku juga bisa membawamu tenggelam dari ceritaku hanya dengan menunjuk sesuatu yang kita kenakan atau benda-benda lain di luar sana,” mulaiku.
“Ceritakan!” hentaknya dengan tawa kecil. Lia tampak sumringah dengan segala hal yang aku katakan. Aku memulainya dengan sweater putih. Kemudian jalanan aspal dan selokan. Hingga taman bermain yang tak jauh dari kawasan ini. Membuatnya benar-benar tenggelam dalam pembicaraan yang panjang. Menarik ingatan lama dalam perwujudan baru. Menambah catatan terkini pada memori otak.
Pengunjung di sebelah tertangkap basah menoleh ke arah kami. Tampak memiliki penasaran lebih hingga dilakukannya berkali-kali. Begitu pula dengan pengunjung lain yang hendak duduk di meja depan. Sementara itu kami masih hanyut dalam percakapan yang membungah.
“Setelah sekian lama, sepertinya aku tahu kenapa ibumu memberikan nama Warta.”
“Karena udik dan kolot?” tawa lepas keluar dari mulut kami berdua. Menambah keriuhan pada deretan tenda pelapak yang ramai pelanggan.
Malam itu, kami berpisah di stasiun kota. Lantai keramik dan atap baja kembali merekam dua tangan yang saling melambai satu sama lain. Peluit dari petugas menjadi simbol kereta segera berangkat. Bersamaan dengan itu, aku melangkah ke pintu keluar. Menapakkan kaki di garis putih jalan menuju halte di seberang.
Deru mesin menjadi satu-satunya penguasa yang memecah keheningan kabin. Putaran roda yang semakin cepat mengantar manusia-manusia kelelahan ini dari tempat satu ke tempat lainnya. Di sebuah pemberhentian, aku membuang pandang ke arah luar. Terlihat orang-orang sibuk dengan aktivitasnya. Aku menyadari bagaimana saat ini sejarah sedang membangun dirinya. Melalui orang-orang yang bergerak dan membuat kehidupan berjalan sesuai takdirnya.
Orang-orang di luar sana itu, tak lama lagi bisa saja mati membeku atau terbaring dengan badan yang tak utuh. Dijadikannya ia sebagai tontonan oleh yang lain. Mereka tidak akan dikenang dari apapun yang dilakukan selain tubuh yang terdiam. Kelak, hanya mereka yang menganggapnya berharga yang mampu menghidupkan kembali secuil kehidupan dari yang sudah mati. Mereka yang akan menghidupkan si mayat dengan wujudnya yang paling baru. Mengubahnya ke dalam kemasan yang sedemikian rupa sehingga orang-orang hanyut dalam pembawaannya. Turun temurun dari satu generasi ke generasi. Memanggil kembali memori dari masa lalu sebagai kesenangan baru.
Komentar
Posting Komentar