Dalam sebuah scene di kelas mengemudi Mrs. Puff, Spongebob pernah satu kali melemparkan tebak-tebakan kepada Patrick yang duduk di sebelahnya. Katanya, "apa yang lebih lucu dari dua puluh empat?". Patrick diam menahan tawa sambil menantikan jawaban pamungkas dari Spongebob.
Koki Krusty Krab itu lantas memberikan jawaban, yang kemudian terkenal sebagai salah satu scene tebak-tebakan ikonik kartun ini. "DUA PULUH LIMA".
Jika dilihat dari konteks pertanyaannya, adegan tersebut sebenarnya merupakan sindiran Nickelodeon terhadap kompetitornya, Cartoon Network. Pasalnya, Nickelodeon merupakan stasiun tv yang berada di channel 25, sedangkan Cartoon Network di channel 24.
Lalu, apakah dua pilih lima selucu itu? Mungkin saja, saya juga nggak mau bahas itu. Toh, paragraf di atas hanya sekadar pembuka untuk menjembatani paragraf di bawah ini.
Ya, selain dikenal sebagai penomoran channel tv, dan bagian dari urutan bilangan tentunya. Dua puluh lima, bagi sebagian orang juga menjadi sebuah milestone yang menandakan seperempat perjalanan hidup manusia dari skala 1-100.
Berbagai fase lucu nan menyebalkan bertubi-tubi hadir di seperempat perjalanan ini. Mulai dari pengalaman pahit sampai pengalaman yang pahit banget menjadi pil yang rutin dikonsumsi pada fase ini. Konon, pengalaman itu menjadi obat kuat untuk menjalani fase getir lainnya di masa depan.
Belum lama ini rasanya saya melihat dunia seperti video game. Apa yang saya hadapi adalah apa yang saya kehendaki. Namun, ternyata bukan seperti itu konsep kehidupan.
Dihantam realita membuat diri saya bertemu dengan kutipan klise dari Sutan Syahrir. Katanya, "hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan".
Ya, hidup adalah pertaruhan. Ada usaha dan keringat yang dibayar untuk mencapai titik yang diinginkan. Sekalipun harus tertatih-tatih saat menjalankannya. Namun, begitulah proses hidup.
Memasuki seperempat abad ini, berbagai pengalaman pahit yang datang adalah proses menjadikan diri sebagai pribadi yang arif, alih-alih menyebutnya sebagai manusia dewasa. Karena bagaimana pun, pengalaman adalah guru terbaik karena nggak pernah ngasih tugas.
Pernah sekali kesempatan saya diajak terbang tinggi. Melihat hidup begitu indahnya dari ketinggian dan menjadikan semua yang nampak begitu kecil. Saya pun tertawa lepas menyaksikan pemandangan depan mata itu.
Namun, satu kesalahan kecil yang tidak saya sadari memberikan dampak yang tak terkira besarnya. Dalam waktu singkat, saya menyadari sudah berada di bawah dengan segala perbekalan yang rusak parah.
Berkali-kali saya coba memperbaikinya namun selalu gagal. Tapi saya yakin, harapan adalah manifestasi masa depan sekaligus bahan bakar untuk menggapai langit.
Sayangnya, keyakinan itu hanya menguatkan, bukan memberikan kepastian. Langkah yang berat dan tergopoh-gopoh sudah pasti saya rasakan. Harus apa dan bagaimana? Tidak ada lagi cara untuk terbang.
Keyakinan itu menjadi bahan bakar yang tak pernah habis. Segala peluh dan keringat menjadi bukti bahan bakar sudah terbakar sempurna. Hanya menunggu waktu untuk bisa kembali menikmati keindahan yang selama ini diidamkan.
Seiring waktu berlalu, kemudi dan mesin lebih dari siap membawa saya terbang tinggi. Persiapan yang matang membuat keyakinan saya bertemu dengan kesempatan. Namun itu semua tidak cukup untuk menciptakan keberuntungan.
Langit mendadak jadi kelabu dan menutupi segala pemandangan indah di bawah. Proses tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Proses yang berat harus kembali bertemu dengan kecewa. Apa yang salah?
Pilihan untuk melakukan segalanya sendiri saya kira bukan permasalahan berarti. Toh, nyatanya saya juga hampir mencapai titik yang diinginkan.
Walaupun tidak semulus biasanya, kegagalan memberikan bahan bakar tak terhingga. Keyakinan itu semakin meninggi dan waktu tak lama lagi akan berpihak. Setelah segala usaha dilakukan, hanya perlu strategi yang matang untuk bertemu dengan keberuntungan.
Kini saya kembali terbang dari lokasi yang berbeda. Memanfaatkan titik jatuh dari penerbangan yang justru memberikan keuntungan. Pergerakan angin di sini memudahkan saya untuk lepas landas. Keberuntungan kini memihak, namun dengan rasa yang berbeda.
Panorama depan mata saya begitu indah walau bukan pada titik tertinggi. Besarnya pepohonan dan kontur bukit yang naik turun begitu jelas dari sini.
Namun, kepuasan yang dirasakan kini tak lagi sama dan menggebu seperti sebelumnya. Setelah tujuan tercapai, selanjutnya apa? Oh, ya. Penerbangan ini membutuhkan penumpang! Atau mungkin menciptakan satu skuadron untuk bersama-sama membuat atraksi di langit?
—
Lebih dari itu, saya kira ada banyak keinginan yang diciptakan, namun terlalu jauh untuk digapai. Sedang benda dalam genggaman pun memiliki nilai lebih untuk membahagiakan.
Padahal, bukan tanggung jawab pribadi untuk memenuhi nafsu kebendaan. Melihat segala hal dalam bentuk transaksional, atau sibuk berkompetisi untuk menjadi si paling pesohor.
Jalan Tuhan memberikan keberuntungan pada hambanya bisa jadi tak bisa ditebak. Satu yang jadi harapan, semoga kebahagiaan di tangan memberi banyak manfaat, tentunya jika Tuhan masih berkehendak.
Komentar
Posting Komentar