Tulisan Untukmu

Merayakan Seperempat Abad

Source: Unsplash Dalam sebuah scene di kelas mengemudi Mrs. Puff, Spongebob pernah satu kali melemparkan tebak-tebakan kepada Patrick yang duduk di sebelahnya. Katanya, "apa yang lebih lucu dari dua puluh empat?". Patrick diam menahan tawa sambil menantikan jawaban pamungkas dari Spongebob. Koki Krusty Krab itu lantas memberikan jawaban, yang kemudian terkenal sebagai salah satu scene tebak-tebakan ikonik kartun ini. "DUA PULUH LIMA". Jika dilihat dari konteks pertanyaannya, adegan tersebut sebenarnya merupakan sindiran Nickelodeon terhadap kompetitornya, Cartoon Network. Pasalnya, Nickelodeon merupakan stasiun tv yang berada di channel 25, sedangkan Cartoon Network di channel 24. Lalu, apakah dua pilih lima selucu itu? Mungkin saja, saya juga nggak mau bahas itu. Toh, paragraf di atas hanya sekadar pembuka untuk menjembatani paragraf di bawah ini. Ya, selain dikenal sebagai penomoran channel tv, dan bagian dari urutan bilangan tentunya. Dua puluh lima, bagi sebagia...

Cerita dari Balik Piring Nasi Uduk



Cerita bermula dari dua orang paruh baya yang keberadaannya sudah tidak asing. Mereka adalah sepasang suami-istri penjual nasi uduk yang tiap pagi membuka lapak di depan gang kompleks perumahan saya. Orang-orang kompleks biasa memanggilnya dengan sebutan Bude dan Pakde.

Bude adalah seorang wanita tua yang umurnya sudah lebih dari setengah abad. Sedang Pakde adalah pensiunan buruh pabrik yang sudah tidak lagi bekerja. Mereka berdua saling bahu membahu menyiapkan porsi nasi uduk yang dibuat untuk para pelanggannya tiap pagi. Biasanya, lapak nasi uduk Bude mulai buka sejak orang-orang selesai salat subuh di masjid, dan tutup sekitar jam 9 pagi.

Lapak nasi uduk Bude termasuk salah satu yang laris dan cepat habis. Jika kesiangan sedikit saja pelanggan harus sudah siap pulang dengan tangan kosong. Kompleks perumahan saya mayoritas diisi para pekerja yang masuk pagi, maka tidak heran jika pelanggannya kebanyakan berasal dari para pekerja yang membeli nasi untuk sarapan sebelum berangkat kerja.

Bude selalu mengeluhkan dirinya yang tiap hari harus bangun jam setengah tiga pagi untuk mulai menyiapkan nasi uduk dan makanan tambahan lainnya. Sedang siang sampai dengan malam hari ia harus mulai belanja mencari bahan masakan, meracik bumbu, dan menyiapkan bahan mentah menjadi bahan yang siap diolah pada dini hari nanti.

Bude mempunyai waktu istirahat tidak lebih dari enam jam sehari. Mau bagaimana lagi, sudah menjadi risiko dan tanggung jawabnya katanya. Walaupun begitu, Bude tidak bekerja sendirian. Selain dibantu suaminya, Bude juga sesekali dibantu oleh tetangga sebelah rumahnya yang bernama Bu Nur. Ia berperan sebagai asisten koki Bude yang membantu membuat makanan ketika pagi.

Bu Nur adalah seorang ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Umurnya kira-kira 10 tahun lebih muda dari Bude. Tubuhnya gempal. Pakaian terbaiknya adalah daster dan kerudung besar yang menutupi dada. Sebagai asisten koki Bude, spesialisasi Bu Nur yaitu membuat cemilan pendamping nasi uduk dengan tempe goreng, tahu isi, dan pisang goreng sebagai menu andalannya.

Kehadiran Bu Nur sangat membantu Bude dalam menyiapkan makanan sebelum matahari turun. Para pelanggan Bude sering kali datang ketika lapak belum dibuka. Teriakan ‘BUDE, NASI UDUKNYA UDAH SIAP BELUM?’ sudah umum terdengar di kompleks kami. Dengan banyaknya pelanggan yang mengantre sebelum lapak dibuka, membuat Bude, Pakde, dan Bu Nur harus cepat menyiapkan makanan.

Oh iya, ada satu hal penting yang saya lewatkan dalam tulisan ini, yang mana menjadi inti dalam cerita. Berkaitan dengan keluarga Bude dan bagaimana kehidupannya.

Jauh sebelum memulai usaha nasi uduk, Bude adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Tiap paginya ia sibuk menyiapkan sarapan dan pakaian untuk suami dan anak-anaknya. Beres-beres rumah ketika orang rumah sudah pergi, kemudian masak lagi pada sore hari untuk menyambut sang suami pulang. Kehidupan sempurna layaknya keluarga bahagia pada umumnya.

Bude juga mempunyai anak, seorang anak perempuan dan adik laki-lakinya yang memiliki selisih umur 10 tahun. Walaupun begitu, namanya kakak beradik pasti tidak lepas dari yang namanya ribut-ribut. Saya ingat bagaimana dulu selalu terdengar teriakan dari rumah Bude setiap pagi karena kelakuan si adik yang terlalu santai padahal sudah hampir telat.

Pagi itu rumah Bude terlihat sangat sibuk, padahal langit masih gelap. Pakde sibuk memanaskan motor tua warna biru di depan rumahnya dengan asap knalpot yang mengepul. Si kakak perempuan sibuk dandan sebelum berangkat kerja, dan Bude terdengar sedang membuat sarapan. Sontak keduanya teriak bersamaan untuk membangunkan si adik yang belum juga mau mandi dengan alasan masih mengumpulkan nyawa. Suaranya terdengar begitu lantang hingga tetangga sebelah kanan, kiri, depan rumah, sampai orang yang lewat mendengarnya.

Namun roda ekonomi keluarga Bude berputar sejak empat tahun yang lalu setelah Pakde dicukupkan untuk bekerja dari pekerjaannya karena faktor usia. Sejak saat itu, Bude mengambil alih komando ekonomi keluarganya dengan berjualan nasi uduk. Semata-mata hanya untuk mempertahankan asap dapur agar terus mengepul dan membantu mewujudkan cita-cita anaknya.

Kini semua anak-anaknya sudah dewasa. Anak perempuan Bude sudah hidup bersama dengan suami dan dua anak perempuan mereka. Satu beban hilang dari pundak Pakde dan Bude. Hanya tinggal si bungsu yang masih membutuhkan biaya untuk menyelesaikan tugas akhir kuliahnya.

Sebagai seorang pensiunan, tentu saja Pakde mempunyai pegangan uang pensiun. Namun dengan pengetahuan literasi keuangan yang tidak begitu baik, membuat uang panas itu tidak bertahan lama. Apalah yang dipikirkan orang tua soal literasi keuangan, frasa itu saja masih terdengar asing bagi mereka. Bisa membuat perut istri dan anaknya kenyang, serta menyekolahkan anaknya sampai sarjana saja berarti sudah dianggap mampu mengelola keuangan dengan baik.

Memang di rumahnya terdapat mobil jenis Sport Utility Vehicle (SUV) yang dibeli secara tunai dari tangan kedua dengan uang pensiun. Tapi bukan berarti menjadikannya sebagai simbol kesuksesan keluarga mereka seperti yang dianggap kebanyakan orang. Simbol kesuksesan apanya, jika digunakan saja jarang sebab masih dirasa berat untuk beli bensin.

Begitulah anggapan Pakde, bahwa simbol kesuksesan seperti yang dianggap orang kebanyakan tidak mutlak menjadi tolok ukur kekayaan keluarganya. Bagi Pakde, mobil putih yang terparkir di rumahnya hanya simbol perjuangannya selama 30 tahun bekerja yang nantinya bisa dinikmati istri, anak, dan cucunya di hari tua.

Begitu juga dengan Bude, memiliki mobil tidak kemudian menjadikan status sosial mereka menjadi tinggi. Di samping karena kebutuhan, berjualan nasi uduk menjadi cara Bude mematahkan anggapan tersebut. Baginya, dengan menjadi apa adanya di hadapan orang lain sama halnya dengan mengakui kekurangan diri sendiri. Trik untuk hidup tenang dan menjaga kewarasan di hari tua katanya.

Hanya ada satu keinginan sederhana dari dua orang yang sudah memasuki usia sepuh ini, melihat anak bungsunya menjadi sarjana seperti kakaknya dan tumbuh menjadi orang yang sukses. Tugas mereka mengantar kedua anaknya menuju kehidupannya masing-masing sebentar lagi selesai. Setelahnya mereka bisa menikmati udara pagi di depan rumah sambil bermain dengan kedua cucunya yang lucu.

Baginya, nasi uduk adalah anak tangga paling atas yang kelak akan mengantar mereka ke puncak impiannya yang terakhir. Nasi uduk adalah analogi kehidupan keluarga mereka. Menyaksikan semua tersaji dalam satu piring hingga saatnya menunggu waktu untuk dinikmati.

Tak terasa sudah menuju jam 9 pagi di sini. Saut teriakan yang memanggil nama saya sudah terdengar. Tulisan ini harus segera saya akhiri walaupun dengan akhir cerita yang buruk. Mungkin nanti saya bisa menuliskan akhir cerita yang baik setelah piring kotor dan meja sudah saya angkat.

Komentar