Cerita bermula dari dua orang paruh baya yang
keberadaannya sudah tidak asing. Mereka adalah sepasang suami-istri penjual
nasi uduk yang tiap pagi membuka lapak di depan gang kompleks perumahan saya.
Orang-orang kompleks biasa memanggilnya dengan sebutan Bude dan Pakde.
Bude adalah seorang wanita tua yang umurnya
sudah lebih dari setengah abad. Sedang Pakde adalah pensiunan buruh pabrik yang
sudah tidak lagi bekerja. Mereka berdua saling bahu membahu menyiapkan porsi
nasi uduk yang dibuat untuk para pelanggannya tiap pagi. Biasanya, lapak nasi
uduk Bude mulai buka sejak orang-orang selesai salat subuh di masjid, dan tutup
sekitar jam 9 pagi.
Lapak nasi uduk Bude termasuk salah satu yang
laris dan cepat habis. Jika kesiangan sedikit saja pelanggan harus sudah siap
pulang dengan tangan kosong. Kompleks perumahan saya mayoritas diisi para
pekerja yang masuk pagi, maka tidak heran jika pelanggannya kebanyakan berasal
dari para pekerja yang membeli nasi untuk sarapan sebelum berangkat kerja.
Bude selalu mengeluhkan dirinya yang tiap hari
harus bangun jam setengah tiga pagi untuk mulai menyiapkan nasi uduk dan
makanan tambahan lainnya. Sedang siang sampai dengan malam hari ia harus mulai
belanja mencari bahan masakan, meracik bumbu, dan menyiapkan bahan mentah
menjadi bahan yang siap diolah pada dini hari nanti.
Bude mempunyai waktu istirahat tidak lebih
dari enam jam sehari. Mau bagaimana lagi, sudah menjadi risiko dan tanggung
jawabnya katanya. Walaupun begitu, Bude tidak bekerja sendirian. Selain dibantu
suaminya, Bude juga sesekali dibantu oleh tetangga sebelah rumahnya yang
bernama Bu Nur. Ia berperan sebagai asisten koki Bude yang membantu membuat
makanan ketika pagi.
Bu Nur adalah seorang ibu rumah tangga dengan
tiga orang anak. Umurnya kira-kira 10 tahun lebih muda dari Bude. Tubuhnya
gempal. Pakaian terbaiknya adalah daster dan kerudung besar yang menutupi dada.
Sebagai asisten koki Bude, spesialisasi Bu Nur yaitu membuat cemilan pendamping
nasi uduk dengan tempe goreng, tahu isi, dan pisang goreng sebagai menu
andalannya.
Kehadiran Bu Nur sangat membantu Bude dalam
menyiapkan makanan sebelum matahari turun. Para pelanggan Bude sering kali
datang ketika lapak belum dibuka. Teriakan ‘BUDE, NASI UDUKNYA UDAH SIAP
BELUM?’ sudah umum terdengar di kompleks kami. Dengan banyaknya pelanggan yang
mengantre sebelum lapak dibuka, membuat Bude, Pakde, dan Bu Nur harus cepat
menyiapkan makanan.
Oh iya, ada satu hal penting yang saya lewatkan
dalam tulisan ini, yang mana menjadi inti dalam cerita. Berkaitan dengan
keluarga Bude dan bagaimana kehidupannya.
Jauh sebelum memulai usaha nasi uduk, Bude
adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Tiap paginya ia sibuk menyiapkan sarapan
dan pakaian untuk suami dan anak-anaknya. Beres-beres rumah ketika orang rumah
sudah pergi, kemudian masak lagi pada sore hari untuk menyambut sang suami
pulang. Kehidupan sempurna layaknya keluarga bahagia pada umumnya.
Bude juga mempunyai anak, seorang anak perempuan
dan adik laki-lakinya yang memiliki selisih umur 10 tahun. Walaupun begitu,
namanya kakak beradik pasti tidak lepas dari yang namanya ribut-ribut. Saya
ingat bagaimana dulu selalu terdengar teriakan dari rumah Bude setiap pagi
karena kelakuan si adik yang terlalu santai padahal sudah hampir telat.
Pagi itu rumah Bude terlihat sangat sibuk,
padahal langit masih gelap. Pakde sibuk memanaskan motor tua warna biru di
depan rumahnya dengan asap knalpot yang mengepul. Si kakak perempuan sibuk dandan
sebelum berangkat kerja, dan Bude terdengar sedang membuat sarapan. Sontak
keduanya teriak bersamaan untuk membangunkan si adik yang belum juga mau mandi
dengan alasan masih mengumpulkan nyawa. Suaranya terdengar begitu lantang
hingga tetangga sebelah kanan, kiri, depan rumah, sampai orang yang lewat
mendengarnya.
Namun roda ekonomi keluarga Bude berputar
sejak empat tahun yang lalu setelah Pakde dicukupkan untuk bekerja dari
pekerjaannya karena faktor usia. Sejak saat itu, Bude mengambil alih komando
ekonomi keluarganya dengan berjualan nasi uduk. Semata-mata hanya untuk mempertahankan
asap dapur agar terus mengepul dan membantu mewujudkan cita-cita anaknya.
Kini semua anak-anaknya sudah dewasa. Anak
perempuan Bude sudah hidup bersama dengan suami dan dua anak perempuan mereka.
Satu beban hilang dari pundak Pakde dan Bude. Hanya tinggal si bungsu yang
masih membutuhkan biaya untuk menyelesaikan tugas akhir kuliahnya.
Sebagai seorang pensiunan, tentu saja Pakde
mempunyai pegangan uang pensiun. Namun dengan pengetahuan literasi keuangan
yang tidak begitu baik, membuat uang panas itu tidak bertahan lama. Apalah yang
dipikirkan orang tua soal literasi keuangan, frasa itu saja masih terdengar
asing bagi mereka. Bisa membuat perut istri dan anaknya kenyang, serta menyekolahkan
anaknya sampai sarjana saja berarti sudah dianggap mampu mengelola keuangan
dengan baik.
Memang di rumahnya terdapat mobil jenis Sport
Utility Vehicle (SUV) yang dibeli secara tunai dari tangan kedua dengan
uang pensiun. Tapi bukan berarti menjadikannya sebagai simbol kesuksesan
keluarga mereka seperti yang dianggap kebanyakan orang. Simbol kesuksesan
apanya, jika digunakan saja jarang sebab masih dirasa berat untuk beli bensin.
Begitulah anggapan Pakde, bahwa simbol
kesuksesan seperti yang dianggap orang kebanyakan tidak mutlak menjadi tolok
ukur kekayaan keluarganya. Bagi Pakde, mobil putih yang terparkir di rumahnya hanya
simbol perjuangannya selama 30 tahun bekerja yang nantinya bisa dinikmati
istri, anak, dan cucunya di hari tua.
Begitu juga dengan Bude, memiliki mobil tidak
kemudian menjadikan status sosial mereka menjadi tinggi. Di samping karena
kebutuhan, berjualan nasi uduk menjadi cara Bude mematahkan anggapan tersebut.
Baginya, dengan menjadi apa adanya di hadapan orang lain sama halnya dengan
mengakui kekurangan diri sendiri. Trik untuk hidup tenang dan menjaga kewarasan
di hari tua katanya.
Hanya ada satu keinginan sederhana dari dua
orang yang sudah memasuki usia sepuh ini, melihat anak bungsunya menjadi
sarjana seperti kakaknya dan tumbuh menjadi orang yang sukses. Tugas mereka mengantar
kedua anaknya menuju kehidupannya masing-masing sebentar lagi selesai. Setelahnya
mereka bisa menikmati udara pagi di depan rumah sambil bermain dengan kedua cucunya
yang lucu.
Baginya, nasi uduk adalah anak tangga paling
atas yang kelak akan mengantar mereka ke puncak impiannya yang terakhir. Nasi
uduk adalah analogi kehidupan keluarga mereka. Menyaksikan semua tersaji dalam
satu piring hingga saatnya menunggu waktu untuk dinikmati.
Tak terasa sudah menuju jam 9 pagi di sini. Saut
teriakan yang memanggil nama saya sudah terdengar. Tulisan ini harus segera saya
akhiri walaupun dengan akhir cerita yang buruk. Mungkin nanti saya bisa menuliskan akhir
cerita yang baik setelah piring kotor dan meja sudah saya angkat.
Komentar
Posting Komentar