Tulisan Untukmu

Merayakan Seperempat Abad

Source: Unsplash Dalam sebuah scene di kelas mengemudi Mrs. Puff, Spongebob pernah satu kali melemparkan tebak-tebakan kepada Patrick yang duduk di sebelahnya. Katanya, "apa yang lebih lucu dari dua puluh empat?". Patrick diam menahan tawa sambil menantikan jawaban pamungkas dari Spongebob. Koki Krusty Krab itu lantas memberikan jawaban, yang kemudian terkenal sebagai salah satu scene tebak-tebakan ikonik kartun ini. "DUA PULUH LIMA". Jika dilihat dari konteks pertanyaannya, adegan tersebut sebenarnya merupakan sindiran Nickelodeon terhadap kompetitornya, Cartoon Network. Pasalnya, Nickelodeon merupakan stasiun tv yang berada di channel 25, sedangkan Cartoon Network di channel 24. Lalu, apakah dua pilih lima selucu itu? Mungkin saja, saya juga nggak mau bahas itu. Toh, paragraf di atas hanya sekadar pembuka untuk menjembatani paragraf di bawah ini. Ya, selain dikenal sebagai penomoran channel tv, dan bagian dari urutan bilangan tentunya. Dua puluh lima, bagi sebagia...

Saya Kembali Menulis!


Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah - Pramoedya Ananta Toer

Sekitar 7 tahun yang lalu sebelum blog ini dibuat, saya hanya seorang anak kecil yang baru tumbuh menjadi seorang remaja. Seorang anak kelas 9 SMP yang mempunyai mimpi untuk menyaingi penulis yang cukup digandrungi remaja tanggung kala itu, Raditya Dika.

Keinginan saya untuk menjadi penulis dan mempunyai buku sendiri terinspirasi dari penulis tersebut. Masih ingat betul kala itu saya sering baca salah satu web yang akhirnya jadi rujukan saya dalam menulis, NyuNyu.com. Gaya tulisan pada artikel yang ada di web tersebut cukup menggelitik. Pembahasan yang sesuai dengan kehidupan remaja kala itu, bahasa yang ringan, dan lucu menjadi daya tarik tersendiri.

Entah apa kabarnya web tersebut sekarang, yang jelas dari seringnya saya membaca di web tersebut, perlahan mendorong saya untuk belajar membuat tulisan. Tahun 2013 saya mulai kenal dengan blog, dan dari sanalah saya mulai menulis. Saya coba buat blog dengan nama yang entah dapat dari mana, Blog Absurd. Blog ini yang kemudian menjadi tempat saya untuk menuangkan tulisan saya.

Ketika saya ingin membuat blog baru lagi dengan email lama, Blog Absurd ternyata masih ada dan bisa diakses. Ada tiga tulisan yang semuanya saya baca ulang sampai membuat saya tertawa dengan gaya tulisannya.

Membaca tulisan tersebut seketika terbayang bagaimana saya dulu mulai belajar menulis. Bisa dimaklumi karena waktu itu belum punya pengalaman menulis. Bahkan untuk tahu kaidah penulisan yang baik, atau setidaknya tau tulisan yang enak dibaca saja tidak. Saat ini blog tersebut sudah saya hapus, untuk keperluan membuat blog ini. (Setelah dipikir-pikir, saya juga tidak paham kenapa akhirnya saya memilih  menghapus blog yang lama untuk kemudian membuat blog ini. Padahal sama saja.)

Menulis kemudian menjadi hobi baru saya. Ide apapun yang muncul di otak, saya coba tuangkan ke dalam tulisan. Mulai dari topik yang serius, sampai dengan ide-ide receh yang menurut saya lucu. Memasuki SMA, hobi menulis saya kemudian semakin berkembang dengan bergabung ke dalam salah satu ekstrakurikuler yang bergerak di bidang jurnalistik, Majalah Siswa Nebal (MSN).

Ekstrakurikuler tersebut memberikan panggung bagi saya untuk mempublikasikan tulisan saya. Bergabung sebagai anggota yang bertanggung jawab membuat tulisan, kemudian diangkat menjadi ketua di tahun berikutnya menjadikan tugas kepenulisan menjadi hal yang menarik.

Waktu itu kami harus mampu menyelesaikan pembuatan majalah dalam satu semester yang tebalnya sekitar 44 halaman. Karena banyaknya tulisan yang dibuat, kami harus mampu membuat tulisan sebanyak-banyaknya, dan secepatnya. Sebagai orang yang baru dalam dunia kepenulisan, beban ini tentu saja cukup berat. Tapi sialnya saya sangat menikmati saat-saat seperti itu.

Saya tidak sendiri, ada 6 orang kawan saya lainnya yang ikut membuat artikel. Masing-masing orang dijatah 6-7 artikel tiap semesternya. Sekalipun orangnya cukup banyak, tidak menjadi jaminan untuk selesai tepat waktu. Pulang sekolah idealnya jam 4 sore, tapi menjelang akhir semester kami bisa lembur sampai jam 8 malam di sekolah hanya untuk menyelesaikan deadline majalah. Mulai dari pembuatan artikel, desain halaman, sampai kepada pembuatan animasi.

Konten majalah selesai diproduksi bukan berarti semua beban hilang. Setidaknya bagi kami para pengurus. Ya, kami harus memastikan majalah masuk percetakan dan selesai tepat waktu. Ada suatu kebanggaan tersendiri ketika tulisan saya bisa dibaca kawan-kawan satu sekolah. Ini kenapa momen tersebut merupakan momen yang penting bagi pengalaman menulis saya.

Sampai masuk kehidupan perkuliahan, kegiatan menulis masih menjadi hobi yang melekat bagi saya. Saya ingat ketika ospek waktu itu, semua mahasiswa baru diwajibkan untuk membuat esai bebas sebanyak 700-1000 kata. Bukan hal yang sulit bagi saya menyelesaikan tugas tersebut. Proses pencarian ide, data, dan pembuatan tulisan saya lakukan hanya dalam jangka waktu 4 jam. Pertama kalinya saya membuat tulisan sebanyak itu, dan dalam jangka waktu secepat itu. Sejarah!

Siapa yang tahu ternyata esai tersebut dilombakan dalam acara ospek universitas. Asumsi saya setidaknya ada 5000 esai yang diperlombakan, sesuai dengan jumlah mahasiswa baru yang masuk. Saya diberi kesempatan berdiri di depan 5000an orang berkat esai saya. Tidak ada yang tahu kalau pada akhirnya esai saya masuk ke dalam 10 esai terbaik pada acara itu. Sebuah prestasi yang membanggakan di awal masuk perkuliahan saya kira.

Setelah masa-masa ospek, keinginan saya untuk menulis mulai turun. Saya tidak lagi menulis untuk waktu yang cukup lama, kecuali tugas kuliah. Sampai pada semester 5 saya baru menemukan keinginan untuk menulis lagi. Paksaan yang berujung positif perlahan saya dapatkan. Berawal dari paksaan untuk menulis artikel di salah satu akun sosial media organisasi, saya kembali menulis.

Saya juga pernah secara terpaksa membuat esai yang ditujukan untuk lomba. Esai ini sekaligus sebagai golden ticket yang akan mengantarkan peserta untuk berpartisipasi pada lomba debat mahasiswa tingkat nasional di Universitas Negeri Semarang. Tim saya berjumlah 3 orang, dan sudah seharusnya kami bekerja sama untuk membuat esai bersama. Tapi karena satu dan lain hal, saya terpaksa mengerjakannya sendiri.

Dengan niat yang dipaksakan, saya akhirnya menulis esai 1500 kata sendirian. Proses pencarian ide, data, sampai kepada penulisan saya lakukan dalam waktu 3 jam. Pada hari itu juga saya masih ada rapat kerja himpunan, sehingga saya harus cepat menyelesaikannya. Dengan tulisan seadanya, akhirnya saya kirimlah tulisan tersebut kepada panitia.

Keberuntungan masih ada di pihak saya. Tidak ada yang menyangka, esai yang saya buat seadanya berhasil menduduki peringkat 3 dari 81 peserta yang berpartisipasi. Prestasi ini yang kemudian membuat saya optimis dan percaya diri bahwa saya punya kemampuan menulis yang cukup baik. Selama ini saya tidak cukup percaya diri dengan tulisan saya.

Karena prestasi tersebut, saya kembali menulis. Kebetulan ketika saya magang, saya menemukan sebuah web yang memberikan peluang kepada siapapun untuk menjadi kontributor. Saya pikir ini baik untuk mengasah kemampuan menulis saya, karena ketika mengirim tulisan akan melewati proses screening dari editor web tersebut. Akhirnya saya bergabung dan coba menulis di web tersebut, qureta.com.

Saya cukup semangat di awal-awal saya bergabung. Saya mampu membuat tiga artikel dalam waktu dua hari, dan semuanya berhasil melewati proses screening di editor sehingga dapat dipublikasi. Namun lagi-lagi semangat menulis saya kembali turun.

Cukup banyak ide di otak saya yang bisa dituangkan dalam tulisan. Namun niat untuk menulis tidak sebanyak itu. Saya coba menuangkannya di Twitter dan Quora. Masih tidak cukup membuat saya konsisten untuk menulis.

Saya juga pernah mempunyai pengalaman pahit di mana kumpulan tulisan saya dari awal saya menulis dulu terhapus. Cukup lama bagi saya untuk menyadarinya sampai sudah tidak bisa diselamatkan lagi sekalipun menggunakan aplikasi file recovery. Tulisan dari awal saya mulai menulis, tulisan yang saya buat untuk majalah SMA, semua hilang. Padahal itu cukup menjadi kenangan sendiri untuk saya. Menyesal? Pasti. Tapi hal ini juga yang menjadi salah satu titik balik saya untuk kembali menulis.

Alasan lainnya datang untuk memperkuat keyakinan saya bahwa saya harus kembali menulis. Tahun 2019, saya pernah merasa ada dalam kondisi di mana saya mulai terlilit dalam sebuah beban masalah. Saya kira tidak perlu dijelaskan secara rinci, namun dari keadaan itu saya memotivasi diri untuk sembuh dan bangkit . Sampai akhirnya saya menemukan ketenangan ketika menuliskan apa yang saya rasakan. Saya harus kembali menulis. Menghanyutkan perasaan dan pikiran dalam kata-kata. Membuang segala yang mengganjal. Memberikan segala yang bisa menjadi inspirasi.

Oleh karena itu, blog ini selain akan menjadi sarana saya untuk menghanyutkan pikiran dan perasaan saya ke dalam bentuk tulisan, juga menjadi museum saya. Pengalaman saya dalam menulis, beberapa karya tulis yang masih tersimpan, juga tentunya akan saya publikasikan di blog ini. Saya percaya sejelek apapun tulisan yang dibuat, itu adalah salah satu proses dalam hidup yang pernah kita lewati. Dari sanalah kita belajar mengembangkan tulisan.

Selamat datang!

Komentar