Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah - Pramoedya Ananta Toer
Sekitar 7 tahun yang lalu sebelum blog ini
dibuat, saya hanya seorang anak kecil yang baru tumbuh menjadi seorang remaja. Seorang
anak kelas 9 SMP yang mempunyai mimpi untuk menyaingi penulis yang cukup
digandrungi remaja tanggung kala itu, Raditya Dika.
Keinginan saya untuk menjadi penulis dan
mempunyai buku sendiri terinspirasi dari penulis tersebut. Masih ingat betul
kala itu saya sering baca salah satu web yang akhirnya jadi rujukan saya dalam menulis,
NyuNyu.com. Gaya tulisan pada artikel yang ada di web tersebut cukup
menggelitik. Pembahasan yang sesuai dengan kehidupan remaja kala itu, bahasa yang
ringan, dan lucu menjadi daya tarik tersendiri.
Entah apa kabarnya web tersebut sekarang, yang
jelas dari seringnya saya membaca di web tersebut, perlahan mendorong saya
untuk belajar membuat tulisan. Tahun 2013 saya mulai kenal dengan blog, dan
dari sanalah saya mulai menulis. Saya coba buat blog dengan nama yang
entah dapat dari mana, Blog Absurd. Blog ini yang kemudian menjadi tempat
saya untuk menuangkan tulisan saya.
Ketika saya ingin membuat blog baru lagi dengan
email lama, Blog Absurd ternyata masih ada dan bisa diakses. Ada tiga tulisan
yang semuanya saya baca ulang sampai membuat saya tertawa dengan gaya tulisannya.
Membaca tulisan tersebut seketika
terbayang bagaimana saya dulu mulai belajar menulis. Bisa dimaklumi karena waktu itu
belum punya pengalaman menulis. Bahkan untuk tahu kaidah penulisan yang baik,
atau setidaknya tau tulisan yang enak dibaca saja tidak. Saat ini blog tersebut sudah saya
hapus, untuk keperluan membuat blog ini. (Setelah dipikir-pikir, saya juga tidak paham kenapa akhirnya saya memilih menghapus blog yang lama untuk kemudian membuat blog ini. Padahal sama saja.)
Menulis kemudian menjadi hobi baru saya. Ide
apapun yang muncul di otak, saya coba tuangkan ke dalam tulisan. Mulai dari topik
yang serius, sampai dengan ide-ide receh yang menurut saya lucu. Memasuki SMA,
hobi menulis saya kemudian semakin berkembang dengan bergabung ke dalam salah
satu ekstrakurikuler yang bergerak di bidang jurnalistik, Majalah Siswa Nebal
(MSN).
Ekstrakurikuler tersebut memberikan panggung
bagi saya untuk mempublikasikan tulisan saya. Bergabung sebagai anggota yang bertanggung
jawab membuat tulisan, kemudian diangkat menjadi ketua di tahun berikutnya
menjadikan tugas kepenulisan menjadi hal yang menarik.
Waktu itu kami harus mampu menyelesaikan
pembuatan majalah dalam satu semester yang tebalnya sekitar 44 halaman. Karena banyaknya
tulisan yang dibuat, kami harus mampu membuat tulisan sebanyak-banyaknya, dan
secepatnya. Sebagai orang yang baru dalam dunia kepenulisan, beban ini tentu saja
cukup berat. Tapi sialnya saya sangat menikmati saat-saat seperti itu.
Saya tidak sendiri, ada 6 orang kawan saya
lainnya yang ikut membuat artikel. Masing-masing orang dijatah 6-7 artikel tiap
semesternya. Sekalipun orangnya cukup banyak, tidak menjadi jaminan untuk selesai
tepat waktu. Pulang sekolah idealnya jam 4 sore, tapi menjelang akhir semester
kami bisa lembur sampai jam 8 malam di sekolah hanya untuk menyelesaikan deadline
majalah. Mulai dari pembuatan artikel, desain halaman, sampai kepada
pembuatan animasi.
Konten majalah selesai diproduksi bukan
berarti semua beban hilang. Setidaknya bagi kami para pengurus. Ya, kami harus
memastikan majalah masuk percetakan dan selesai tepat waktu. Ada suatu kebanggaan
tersendiri ketika tulisan saya bisa dibaca kawan-kawan satu sekolah. Ini kenapa
momen tersebut merupakan momen yang penting bagi pengalaman menulis saya.
Sampai masuk kehidupan
perkuliahan, kegiatan menulis masih menjadi hobi yang melekat bagi saya. Saya
ingat ketika ospek waktu itu, semua mahasiswa baru diwajibkan untuk membuat
esai bebas sebanyak 700-1000 kata. Bukan hal yang sulit bagi saya menyelesaikan
tugas tersebut. Proses pencarian ide, data, dan pembuatan tulisan saya lakukan
hanya dalam jangka waktu 4 jam. Pertama kalinya saya membuat tulisan sebanyak
itu, dan dalam jangka waktu secepat itu. Sejarah!
Siapa yang tahu ternyata esai tersebut
dilombakan dalam acara ospek universitas. Asumsi saya setidaknya ada 5000 esai yang
diperlombakan, sesuai dengan jumlah mahasiswa baru yang masuk. Saya diberi kesempatan berdiri di depan 5000an orang berkat
esai saya. Tidak ada yang tahu kalau pada akhirnya esai saya masuk ke dalam
10 esai terbaik pada acara itu. Sebuah prestasi yang membanggakan di
awal masuk perkuliahan saya kira.
Setelah masa-masa ospek, keinginan saya untuk
menulis mulai turun. Saya tidak lagi menulis untuk waktu yang cukup lama,
kecuali tugas kuliah. Sampai pada semester 5 saya baru menemukan keinginan
untuk menulis lagi. Paksaan yang berujung positif perlahan saya dapatkan.
Berawal dari paksaan untuk menulis artikel di salah satu akun sosial media organisasi, saya kembali menulis.
Saya juga pernah secara terpaksa membuat esai
yang ditujukan untuk lomba. Esai ini sekaligus sebagai golden ticket
yang akan mengantarkan peserta untuk berpartisipasi pada lomba debat mahasiswa
tingkat nasional di Universitas Negeri Semarang. Tim saya berjumlah 3 orang,
dan sudah seharusnya kami bekerja sama untuk membuat esai bersama. Tapi karena
satu dan lain hal, saya terpaksa mengerjakannya sendiri.
Dengan niat yang dipaksakan, saya akhirnya
menulis esai 1500 kata sendirian. Proses pencarian ide, data, sampai kepada
penulisan saya lakukan dalam waktu 3 jam. Pada hari itu juga saya masih ada
rapat kerja himpunan, sehingga saya harus cepat menyelesaikannya. Dengan tulisan
seadanya, akhirnya saya kirimlah tulisan tersebut kepada panitia.
Keberuntungan masih ada di pihak saya. Tidak
ada yang menyangka, esai yang saya buat seadanya berhasil menduduki peringkat
3 dari 81 peserta yang berpartisipasi. Prestasi ini yang kemudian
membuat saya optimis dan percaya diri bahwa saya punya kemampuan menulis yang
cukup baik. Selama ini saya tidak cukup percaya diri dengan tulisan saya.
Karena prestasi tersebut, saya kembali
menulis. Kebetulan ketika saya magang, saya menemukan sebuah web yang
memberikan peluang kepada siapapun untuk menjadi kontributor. Saya pikir ini
baik untuk mengasah kemampuan menulis saya, karena ketika mengirim tulisan akan
melewati proses screening dari editor web tersebut. Akhirnya saya
bergabung dan coba menulis di web tersebut, qureta.com.
Saya cukup semangat di awal-awal saya
bergabung. Saya mampu membuat tiga artikel dalam waktu dua hari, dan semuanya
berhasil melewati proses screening di editor sehingga dapat dipublikasi.
Namun lagi-lagi semangat menulis saya kembali turun.
Cukup banyak ide di otak saya yang bisa
dituangkan dalam tulisan. Namun niat untuk menulis tidak sebanyak itu. Saya
coba menuangkannya di Twitter dan Quora. Masih tidak cukup
membuat saya konsisten untuk menulis.
Saya juga pernah mempunyai pengalaman pahit di mana kumpulan tulisan saya dari awal saya menulis dulu terhapus. Cukup lama bagi saya untuk menyadarinya sampai sudah tidak bisa diselamatkan lagi sekalipun menggunakan aplikasi file recovery. Tulisan dari awal saya mulai menulis, tulisan yang saya buat untuk majalah SMA, semua hilang. Padahal itu cukup menjadi kenangan sendiri untuk saya. Menyesal? Pasti. Tapi hal ini juga yang menjadi salah satu titik balik saya untuk kembali menulis.
Alasan lainnya datang untuk memperkuat keyakinan saya bahwa saya harus kembali menulis. Tahun 2019, saya pernah merasa ada dalam kondisi di mana saya mulai terlilit dalam sebuah beban masalah. Saya kira tidak perlu dijelaskan secara rinci, namun dari keadaan itu saya memotivasi diri untuk sembuh dan
bangkit . Sampai akhirnya saya menemukan ketenangan ketika menuliskan
apa yang saya rasakan. Saya harus kembali menulis. Menghanyutkan perasaan dan
pikiran dalam kata-kata. Membuang segala yang mengganjal. Memberikan segala
yang bisa menjadi inspirasi.
Oleh karena itu, blog ini selain akan menjadi sarana saya untuk
menghanyutkan pikiran dan perasaan saya ke dalam bentuk tulisan, juga menjadi museum saya. Pengalaman saya dalam
menulis, beberapa karya tulis yang masih tersimpan, juga tentunya akan saya publikasikan
di blog ini. Saya percaya sejelek apapun tulisan yang dibuat, itu adalah salah
satu proses dalam hidup yang pernah kita lewati. Dari sanalah kita belajar
mengembangkan tulisan.
Selamat datang!
Komentar
Posting Komentar